Catatan Etnografis

Beberapa kali saya membaca skripsi/tesis/disertasi  akuntansi yang mengklaim menggunakan etnografi.  Sayangnya, beberapa bahkan hampir semua kehilangan ruh etnografi karena tidak menampilkan satu hal: CATATAN ETNOGRAFIS.

 

Writing ethnographic fieldnotes- is the primordial textualization that creates a world on the page and ultimately shapes the final ethnographic, published text.” (p16)

 

Tahukah Anda apa arti PRIMORDIAL?

 

Primordial memiliki arti “utama”, “pokok”, “hal yang harus dilakukan pertama kali sebelum melakukan hal lain”.

 

Benar…

 

Poin penting suatu pekerjaan etnografi adalah membuat catatan etnografis (ethnographic fieldstone). Ini dilakukan dengan cara melakukan pencatatan sistematis pada saat seorang etnografer mulai melakukan proses observasi partisipasi langsung. Apa yang membuat studi etnografi unik?

 

Two interconnected activities comprise the core of ethnographic research: (1) firsthand participation in some initially unfamiliar social world and (2) the production of social accounts of that world by drawing upon such participation. (p1)

 

Satu hal yang tentu menarik dari syarat pokok etnografi adalah “initially unfamiliar world”. Artinya memang jika seseorang kemudian mengatakan “Saya mau studi etnografi di budaya Maluku, karena Saya kebetulan orang Maluku”, maka hal ini sebenarnya menggugurkan kemampuan etnografinya. Mengapa? Hal ini terjadi karena elemen “unfamiliar” sudah tidak lagi dimiliki sang etnografer. Akibatnya memang, ia menjadi lebih tidak sensitif pada hal-hal yang seharusnya bisa diangkat. Misalnya seorang yang memiliki darah Madura dan paham budaya Carok, lalu melakukan studi etnografi tentang carok, tidak akan menemukan hal-hal “baru” sebanyak seseorang yang tidak mengenal budaya carok.

 

Kembali ke catatan etnografi sebagai karakter inti etnografi.  Seperti apa catatan etnografis itu?

 

Writing field notes descriptions then, is not so much a matter of passively copying down “facts” about “what happened”. Rather, such writing involves active processes of interpretation and sense-making…in this respect, it is important to recognise that field notes involve inscriptions of social life.

 

The ethnographer “inscribes” social discourse, he writes it down. (p8)

 

Kata benda “inscription”- yang kata kerjanya adalah  “inscribing” berbeda dengan kata “transcription” yang kata kerjanya adalah “transcribing”. Transcribe memiliki arti “to write, type, or print out fully from speech, notes”; artinya secara utuh menangkap apa yang diungkapkan dari berbagai sumber.  Dalam hal ini, misalnya jika Anda melakukan wawancara, lalu hasil wawancara diketik ulang tanpa menghilangkan seluruh hasil wawancara termasuk “mmm…” atau “ooo…”, maka inilah transkripsi.

 

Di sisi lain, “inscribe” yang diartikan menuliskan, juga memiliki arti “put one’s signature”… artinya memang bagaimana seorang etnografer menuliskan ulang situasi yang ia observasi sangat tergantung dari cara ia melihat situasi tersebut.  Catatan etnografis memiliki “signature” etnografernya yang sangat khas. Oleh karena itu menjadi sangat wajar apabila satu kondisi yang sama dapat dimaknai secara berbeda oleh etnografer yang berbeda.

 

Lalu bagaimana dengan reliabilitas temuan jika satu etnografer memaknai hal yang berbeda dengan etnografer lain?

 

Nah, kalau Anda berpikir seperti ini, artinya Anda masih terjebak dalam pola pikir, hallmarks of positivism research, alias objektivitas sebagai kesahihan sebuah hasil penelitian. Perlu diingat, bahwa etnografi tidak berada pada paradigma fungsionalis yang menekankan pentingnya unbiased data.

 

Oleh karena itu pulalah, ada satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang etnografer: yaitu memisahkan antara metode dan temuan. Cara mengambil data dan temuan- termasuk respon emosional peneliti- akan tercakup utuh dalam catatan etnografis.

 

Kapan menulis catatan etnografis?

 

Jawabannya tentu sejak Anda memasuki lapangan. Bagaimana jika pada saat tersebut tidak memungkinkan bagi Anda untuk menulis catatan etnografis? Lakukan dahulu apa yang disebut dengan “jotting”. Ini adalah cara untuk menampilkan hal-hal utama yang harus dibahas lebih lanjut dalam catatan etnografis.  Yang jelas, saat Anda memiliki kesempatan tercepat untuk membuat catatan etnografis, jangan ditunda.

 

Sumber utama:

Writing Ethnographic Fieldnotes

Robert M. Emerson, Rachel I. Fretz, Linda L. Shaw

The University of chicago Press, 1995

 

 

This entry was posted in Riset Akuntansi Non Positif. Bookmark the permalink.

2 Responses to Catatan Etnografis

  1. sira says:

    bu, jadi jika mau meneliti etnografi suatu budaya lokal, lebih kritis dan mantab dilakukan oleh orang bukan etnis dari budaya yang diteliti?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*