Category Archives: Miscellaneous

Esensi “Nobody”…

Beberapa waktu lalu (H-1) Ramadhan, saya mengubah nama di bbm profile saya dengan “nobody”.

Ternyata banyak juga yang protes 🙂

Ada yang bilang:

“Ibu bukan nobody buat saya- jangan ganti begitu- jadi sedih rasanya”

“Kamu lagi ada masalah sama siapa? kamu gpp?”

Komentar-komentar semacam itu menjadi cukup menarik karena menunjukkan betapa semua orang tidak suka dengan sebutan “nobody” padahal sebenarnya menjadi nobody seharusnya menjadi impian semua manusia yang ingin pulang kepada Allah… (menurut saya  lho ya…) 🙂

Ini ada cerita pendek:

Alkisah si Fulan mengetuk pintu Allah….

Allah lalu bertanya “Apa hak mu untuk masuk rumahKU?”

si Fulan menjawab “aku telah mematuhi semua perintahMU, ijinkan aku masuk ke rumahMU”.

Pintu tetap tertutup.

Kali kedua, Si Fulan kembali mengetuk pintu Allah…

Allah bertanya “Apa hak mu untuk masuk rumahKU?”

Si Fulan menjawab “aku telah menjauhi semua laranganMU, ijinkan aku masuk ke rumahMU”.

Pintu tetap tertutup.

Kali ketiga, si Fulan mengetuk pintu Allah…

Allah  bertanya “Apa hak mu untuk masuk rumahKU?”

Si Fulan menjawab “aku bukan siapa-siapa tanpa rahmatMU”

Pintu terbuka…

Kisah tadi sebenarnya menjelaskan bahwa predikat “nobody” – bukan siapa-siapa- adalah bentuk kesadaran tertinggi seorang manusia atas Rabb nya.  Kita terlalu sering membanggakan- siapa diri kita- gelar kita- anak kita- suami/istri kita- orang tua kita- harta kita agar kita menjadi “somebody”.  Bahkan jika bukan tentang materi, kita membanggakan non-materi, membanggakan spiritualitas kita- haji kita- khatam kita- ODOJ kita- pengajian kita- sholat kita- shadaqah kita- kebaikan kita. Semua agar kita  menjadi “somebody”.  Kita sering berpikir ulang untuk melakukan hal yang seharusnya benar, karena kita takut pandangan orang terhadap diri kita menjadi lebih rendah- karena kita ingin tetap dianggap “somebody” oleh orang-orang… Kita lebih suka terjerat kebenaran “umum” yang belum tentu benar, karena kita ingin jadi “somebody”.

“Aku harus ikutan korupsi- biar gak dibilang sok suci”-

“Aku harus ikutan menghujat- biar dibilang setia kelompok baiat”-

“Aku harus punya HP terbaru itu- biar gak dibilang ketinggalan jaman”-

Ah…betapa terkungkungnya kita oleh lingkungan untuk menjadi “somebody”.

Menjadi “nobody” bukan berarti tidak mau melakukan apa-apa.  Tetap menjadi keyakinan kita bahwa manusia diciptakan untuk mengabdi pada Tuhan melalui tugas yang diberikanNYA menjadi khalifah bumi.  Dalam ke”nobody”an, tugas ini harusnya diemban.  Justru dengan menjadi “nobody” tugas berat ini akan diemban dengan tingkat keikhlasan tertinggi.

“Aku belajar karena Allah- bukan agar nanti dapat gelar dan dikagumi orang”-

“Aku menulis karena Allah- bukan agar aku menjadi terkenal”-

“Aku berjuang karena Allah- bukan agar dipandang sebagai pahlawan”-

Dengan menjadi “nobody”, suatu saat nanti jika waktu pulang tiba, kita bisa masuk ke rumahNYA karena rahmatNYA.  Dengan menjadi “nobody” kita menggapai kebebasan penilaian duniawi dalam kebenaran ilahiyah.

Saya masih belajar menjadi “nobody”- semoga kelak dapat mencapai keikhlasan tertinggi itu- Bagaimana dengan anda? 🙂

Posted in Miscellaneous | Tagged | 2 Comments

Saat kita mereduksi Tuhan…

This gallery contains 1 photo.

Ada suatu trend baru dalam kehidupan saya akhir-akhir ini…khususnya pada bulan Ramadhan.

Saat ia datang, saya tidak terlampau bahagia… biasa saja…

Saat ia beranjak, saya juga tidak terlampau sedih… biasa saja…

Awalnya, saya merasa bahwa ini adalah suatu fase kemunduran dalam kehidupan spiritual saya.  Betapa tidak, dahulu begitu puasa Ramadhan dimulai, rasanya target-target sudah ditetapkan. Mengaji Al Quran harus khatam 1 bulan (karena sebelumnya tidak).  Sholat sunnah harus dilakukan, mulai sholat fajar, sholat dhuha, sholat tarawih, sholat tahajud, sholat witir, dan lain-lain.  Nafsu ibadah tiba-tiba melonjak 1000 persen.  Begitu pula saat Ramadhan menghilang.  Dulu, rasanya sedih luar biasa.  Hilang sudah kesempatan mendulang pahala berlimpah, dan menghapus dosa yang menimbun.  Timbul penyesalan yang dalam mengapa tidak lebih baik melakukan hal-hal yang seharusnya bisa dilakukan pada Ramadhan.  Timbul penyesalan bahwa saya sudah menyia-nyiakan Ramadhan.

Namun, tidak kali ini, beda sekarang.

Seperti yang tadi saya sampaikan, semua terasa biasa saja…

Lalu saya menyadari bahwa ini insyaAllah bukan kemunduran pada kehidupan spiritual saya.  Jika dulu saya begitu senang mendapatkan kesempatan mencari pahala dan menghilangkan dosa, itu karena saya jauh dari Tuhan (bukan hak saya pula untuk mengatakan kini dekat. Saya hanya berbaik sangka: bukankah Tuhan adalah sebagaimana prasangka hambaNYA?). Dulu saya menganut paham keterpisahan antara Tuhan dan dunia.  Ramadhan dulu menjadi jalan kepada Tuhan, karena dunia begitu jauh dari Tuhan.  Sehingga saat ia datang, saya diliputi kegembiraan luar biasa, dan saat ia pergi, saya sedih luar biasa.

Namun sekarang, saya sadar bahwa Tuhan tidak terpisah dari dunia saya.  Tidak satu haripun saya tidak berbicara tentang Tuhan. Sebagai dosen, tidak satu haripun saya tidak memperjuangkan kesatuan Tuhan dan ilmu (akuntansi).  Setiap hari adalah untuk Tuhan. Insya Allah. Ini bukan bermaksud takabur atau riya’… Sebagai manusia saya sadar bahwa banyak yang harus diperbaiki… Namun kesadaran semacam ini memberi kesan berbeda tentang Ramadhan.

Mungkin karena itu Ramadhan bagi saya adalah berkah, bukan kebahagiaan luar biasa… karena setiap hari sudah luar biasa untuk saya…

Euforia lampau itu  juga diakibatkan keyakinan saya bahwa Tuhan memberikan berlipat-lipat pahala pada Ramadhan (tidak seperti bulan-bulan lain).

Astaghfirullah, bukankah keyakinan saya terakhir tadi telah mereduksi kekuasaan Tuhan.  Apa hak kita untuk mengatakan Tuhan akan memberikan lebih banyak pahala di Ramadhan dibanding di bulan lain?  Bukan kah itu hak prerogatif Tuhan?  Suka-suka Ia mau memberi berapa banyak rahmat dan ampunan kapan dan di mana.  Apakah hanya doa di Ramadhan yang diijabahi? Apakah hanya di Multazam, Roudhoh, Mekah?  Bukankah hak Tuhan untuk mengijabahi doa hambaNya di Malang, atau lokalisasi sekalipun?  Ingatkah kita kisah pelacur yang masuk syurga karena memberi minum seekor anjing?  Rahman dan rahimNya yang tak berbatas tidak bisa dibatasi oleh Ramadhan.

Bukan berarti Ramadhan tidak perlu disambut.  Dalam kebiasaannya, Ramadhan dan ritualnya secara luar biasa mampu merekatkan hubungan antara keluarga, tetangga, dan rekan.  Ramadhan memberi kesempatan bagi kita yang belum seimbang- untuk menyeimbangkan kembali kehidupan kita untuk tidak lagi berat sebelah pada dunia, tetapi pada akhirat.  Dunia adalah jalan menuju bagi akhirat.

Entahlah… mungkin saya salah 🙂

Terlepas dari itu, gema takbir selalu mampu membuat kulit dan hati bergetar…

bacaan teks takbirhari raya lengkap

Semoga kita menjadi manusia-manusia yang tidak gemar mereduksi Tuhan…. Amiiiin…

Mohon maaf lahir batin, jika pembaca tidak berkenan membaca tulisan hasil refleksi diri ini… Selamat hari raya Idul Fitri 1435H.

Malam takbiran, 27 Juli 2014, 20:44 WIB

More Galleries | Leave a comment

Ganti TOEFL dengan Tes Bahasa Indonesia?

Ingat sumpah pemuda?  Sekadar mengingatkan:

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928.

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :

  1. Abdul Muthalib Sangadji
  2. Purnama Wulan
  3. Abdul Rachman
  4. Raden Soeharto
  5. Abu Hanifah
  6. Raden Soekamso
  7. Adnan Kapau Gani
  8. Ramelan
  9. Amir (Dienaren van Indie)
  10. Saerun (Keng Po)
  11. Anta Permana

(dari sumpahpemuda.org)

Nah, sayangnya poin ketiga tentang menjunjung Bahasa Indonesia ternyata secara praktis mungkin bisa dikatakan tidak menempati tempat utama apalagi jika dihadapkan dengan bahasa Inggris.  Buktinya, ujian masuk perguruan tinggi pasti meliput tes TOEFL (Test of English as Foreign Language) namun tidak mengujikan penguasaan bahasa ibu: bahasa Indonesia.

Mungkin anda bertanya: untuk apa diujikan? Toh kita semua selalu berbahasa Indonesia oleh karena itu menjadi logis bahwa kita menguasai bahasa Indonesia. Ironisnya, dalam pengalaman saya mengelola terbitan berkala ilmiah, penulis seringkali tidak menyadari kesalahan umum berbahasa Indonesia, seperti menuliskan “mempersilahkan” dan bukan “mempersilakan”, “Nopember” dan bukan “November”, “analisa” dan bukan “analisis”, “sekedar” dan bukan “sekadar”,  “mempengaruhi” dan bukan “memengaruhi”, dan masih banyak lagi.  Belum lagi dengan penataan Subyek-Predikat-Obyek yang seringkali kacau. Bukankah kemampuan kita berbahasa Indonesia mencerminkan kebanggaan kita terhadap Indonesia dan juga realisasi sumpah pemuda?

Saya juga percaya bahwa bahasa Inggris tetap harus dikuasai.  Walau demikian, perhatikan niatnya! Penguasaan bahasa Inggris bukan agar “sok keminggris” atau terlihat “keren”, namun untuk memastikan bahwa kita menguasai bahasa penjajah.  Foucault pernah menyatakan bahwa “Language is oppression“.  Bahasa adalah alat penjajahan.  Jadi, agar kita bisa melawan penjajah, kita harus menguasai bahasa penjajah.  Pelajari bahasanya agar kita dapat menyuarakan bentuk-bentuk ketidakadilan yang dilakukan oleh penjajah melalui bahasa mereka.

Jadi, apakah mungkin kita mengganti tes TOEFL dengan tes bahasa Indonesia? Paling tidak, bisa diadakan tes untuk kedua bahasa tersebut. Jangan-jangan tingkat kelulusan bahasa Indonesia menjadi lebih kecil daripada bahasa Inggris.  🙂

(Bisa jadi tulisan pendek ini sarat pula dengan kesalahan bahasa Indonesia)

Posted in Miscellaneous | Tagged | Leave a comment

Women are made STRONG by God :) Thank God…

Dua surat di bawah adalah surat dari Ibu RT dan Ibu yang bekerja… Salut untuk semua Ibu di manapun berada… menjadi Ibu adalah fitrah sejati wanita…

(diambil dari http://carolynee.net/a-letter-from-a-working-mother-to-a-stay-at-home-mother-and-vice-versa/)

Dear Stay-At-Home Mum

Some people have been questioning what you do at home all day. I know what you do. I know because I’m a mum and for a while I did it too. 

I know you do unpaid work, often thankless work, which starts the moment you wake up, and doesn’t even end when you go to sleep. I know you work weekends and nights, with no discernible end to your day or working week. I know the rewards are joyous but few.

I know that you seldom have a hot cup of coffee or tea. I know that your attention is always divided, often diverted from a moment to moment basis, and you cannot ever count on completing a task in the one go. I know that you probably don’t get any down time when you’re on your own at home, unless you have a single child who still naps in the daytime.

I know the challenges you deal with daily, usually with no peer support or backup. The toddler tantrums, the toilet training accidents, the food battles, the food on the floor, the crayons on the wall, the sibling rivalry, the baby that never seems to stop crying. I know how the work seems incessant, like an endless cycle – you shop for food, prepare it, cook it, attempt to feed it to your children, clean it off the floor, wash the dishes, and repeat in three hours.

I know you fantasise about having an hour to yourself to eat your lunch in peace, or about having an afternoon nap. I know you sometimes wonder if it’s all worth it, and feel envious of your friends who are having coffee breaks at work. I know that sometimes when your partner gets home in the evening after his work is done, he wants to put his feet up exactly when you need a break the most, and this can bring you to tears. 

I know that you are misunderstood by so many who do not appreciate the difficulties of caring for small children on your own, all day, and refer to you as joining the “latte set”. They imagine you spend your day sipping coffee while your children play quietly. I know you miss your financial independence. I know you feel amused and sometimes annoyed when others proclaim “TGIF!” because to you every day is the same – there is no Friday, no break from your job. I know that many people do not understand that you work – you simply work an unpaid job at home.

SAHM, I don’t know how you do it. I admire your infinite patience, your ability to face each day cheerfully and bring joy into your children’s lives even when they wear you down. I admire your dedication to being a constant presence in your children’s lives even if it isn’t always easy. I admire the way you work without expecting any reward – no promotions, no fame, no salary. I know you want your children to feel important and loved, and SAHM, you do this the best.

I just wanted you to know that I understand. We’re both mothers. And I know.

Love from the trenches

Working Mum

 

Dear Working Mum

I know you sometimes get judged by others for leaving your children in the care of others to work. Some people imply that you don’t love your children as much as us SAHMs do, and that it’s best for children to be at home with their mothers.

How can they say this about you? I know you love your children just as much as any other mother. I know that going back to work was no easy decision. You weighed up the pros and cons, long before you conceived a baby. It has always been one of the most important decisions of your life. You thought about this even while you were in high school and were choosing subjects for Grade 11.

I see you everywhere. You are the doctor I take my children to when they are sick. You’re my child’s allergist, the one who diagnosed her peanut allergy. You’re the physiotherapist who treated my husband’s back. You’re the accountant who does our tax returns. My son’s primary school teacher. The director of our childcare centre. My daughter’s gymnastics teacher. The real estate agent who sold our house. What sort of world would it be if you hadn’t been there for us? If you had succumbed to the pressures of those who insisted a mother’s place had to be in the home?

I know you weigh up every job to see if it will suit your family. I know you wake up an hour before everyone else does, just so you can get some exercise done or some quiet time. I know that you have attended meetings after being up all night with your toddler. I know that when you come home in the evening, your “second shift” begins. The nay-sayers don’t understand that you run a household AND hold a job. You come home, cook dinner, bath your children and read them stories. You tuck them in and kiss them goodnight. You pay the bills, do the grocery shopping, the laundry, the dishes, just like every other mother does.

I know that you often feel guilty about having any more time away from your children so you sacrifice your leisure time. I know you can’t bring yourself to take a “day off” for yourself when your children are at daycare. I know you accept that work is your “time off” for now. I know that when you are at work you don’t waste a single minute. I know you eat your lunch at your desk, you don’t go out for coffee, and you show complete dedication and concentration to your job. You chose to be there after all. You want to be there.

I know how discerning you are about who is looking after your children, and that many long daycare centres offer excellent care. I know you only leave your children in a place where you confident they are loved and well looked after. I know that you spend many days caring for your children at home when they are sick, and sacrifice your pay. I know that you secretly enjoy these days, and revel in being able to be with your children.

I know that sometimes you feel guilty about not being there all the time. But WM, I know this. You are setting a wonderful example to your children. You are showing them that a woman can have a career, contribute in some way outside the home, and still be a loving mother. You are showing your daughters that they can do anything they want to do in life. You are displaying strength, endurance, dedication, tenacity, and you do it with so much joy and love.

I just wanted you to know I understand. Because we’re both mothers.

Love from the trenches

Stay-At-Home Mum

Posted in Miscellaneous | Tagged | Leave a comment

Asal Filosofi Sains Moderen: Logical Positivism sebagai Pergerakan Politis (anti Tuhan?)[Bagian 1]

Filosofi sains moderen- yang merupakan mainstream filosofi saat ini- berkembang dari suatu aliran pemikiran yang disebut dengan Logical Positivism. Logical Positivism yang merupakan istilah yang dilahirkan oleh Blumberg dan Feigl pada tahun 1931, dilahirkan oleh sekelompok akademisi yang bergabung dalam The Vienna Circle (Wiener Kreis). Anggota kelompok ini cukup beragam yaitu dari fisikawan, sejarawan, sosiolog, ekonom, matematikawan, dll. Perlu dicatat bahwa Logical Positivism berbeda dari Positivisme nya August Comte (1798-1857).  Kita akan melihat bahwa Logical Positivism berevolusi sebagian besar karena pergerakan politis, di mana saat ia akhirnya lebur dan berubah bentuk karena munculnya Nazi Ansclub pada tahun 1938, aliran ini semakin matang dengan nama Logical Empiricism.

Anggota Vienna Circle dikenal menolak dengan tegas dan bereaksi keras atas atmosfir pemikiran “idealis, romantis, dan irasional” Jerman (Frankfurt school paling aktif dalam pergerakannya pada tahun 1930-1944). Tujuan mereka yang utama adalah mengeliminasi elemen ideologis dan metafisik dari sains dan budaya.  Program pertama mereka adalah meletakkan fondasi ilmu di atas pengalaman berbasis observasi dan percobaan (eksperimen).

Jadi penganut logical positivisme menolak segala sesuatu yang bersifat “Entelechies” atau/dan “Absolute”.  Saya jelaskan dulu apa arti keduanya.

Entelechies adalah istilah yang digunakan Biologis Jerman bernama Hans Driesch untuk menjelaskan semua proses biologi yang tidak mampu dijelaskan.  The Absolute di sisi lain, adalah keberadaan metafisika tertinggi- yaitu Tuhan (tentu saja!).  Menurut Karl Popper (1972), hal ini pada akhirnya memusnahkan alam itu sendiri- karena terlalu banyak yang tidak bisa dijelaskan oleh manusia tentang asal muasal alam:

“Positivist, in  their anxiety to annihilate metaphysics, annihilate natural science along with it”

Bagi para anggota Vienna Circle, semua fondasi keilmuan harus tergabung dalam satu metode (Einheitswissenchaft) yaitu analisis berbasis metode logis.

Jadi, pergerakan Logical Postivism merupakan pergerakan politis untuk menghadapi German Idealism yang mereka sebut sebagai Antiscience Movement.  Sedemikian kuat pertentangan keilmuan pada saat itu, sehingga pada tahun 1936, pemimpin Vienna Circle yang bernama Moritz Schlick dibunuh.  Bahkan press Austria menyebutkan bahwa Logical Positivist layak mati.  Pemikiran Logical Positivist dilarang beredar di bawah Nazi. Para anggota Vienna Circle-pun melarikan diri ke Inggris dan USA.  Di sinilah Logical Positivism mengambil bentuk baru: Logical Empiricism.  Bentuk baru ini diakibatkan adanya adopsi filosofi analitis Anglo-American yang ternyata sesuai dengan pemikiran Logical Positivism.

Hukum Logical Empiricism terdiri dari 3 komponen:

(1) Logical term

(2) Mathematical Term

(3) Observation

Nah, kalau sudah memahami apa asumsi dasar logical positivism apakah masih bisa mengklaim bahwa dengan penggunaan metode ini berarti tidak menegasikan Tuhan?

Berlanjut…(insyaAllah)

🙂

 

 

 

Posted in Miscellaneous, Pemikiran/Filosofi Akuntansi | Tagged | Leave a comment

Bibliography software sekaligus media sosial khusus periset: Mendeley

Endnotes adalah bibliografi software berbayar.  Namun ada juga bibliography software ‘gratisan’ seperti Mendeley dan Zotero.  Saya lebih familier dengan Mendeley dan dengan menggunakan Mendeley saya sangat terbantu saat melakukan sitasi dan membuat daftar referensi.  Tidak hanya itu, Mendeley juga sangat membantu mencari lokasi dari artikel-artikel (yang karena manajemen ruang saya di komputer jelek) dengan mudah bahkan membukanya di tempat.

Mendeley juga seperti Facebook.  Anda bisa add teman, namun teman di Mendeley sangat terbatas- karena biasanya hanya periset/penulis yang punya akun di Mendeley. Tak apalah, terbatas tapi berkualitas… hehehe….

Kalau mau install di laptop anda, tinggal masuk ke laman www.mendeley.com dan unduh aplikasi.  Setelah masuk ke mendeley dashboard jangan lupa install plugin untuk MSWord (klik “tool), agar bisa digunakan saat anda menulis di MSWord.  Selamat mencoba.

Nah, untuk meningkatkan sitasi, Mendeley juga membantu, karena di “my publication” anda bisa share artikel sehingga semakin banyak orang yang akan membaca tulisan anda.

Silakan buka link di bawah ini, dan mengunduh beberapa publikasi saya di Mendeley… gratis kok 🙂

http://www.mendeley.com/profiles/ari-kamayanti/

Posted in Miscellaneous | Tagged | Leave a comment

Menulis artikel jurnal TIDAK SAMA dengan menulis SKRIPSI/TESIS/DISERTASI

Sebagai salah satu pengelola (beberapa) jurnal ilmiah, ada satu kegalauan yang sering melanda.   Malam ini misalnya, saya cukup galau saat mempersiapkan penerbitan jurnal.  Sekian tulisan yang hendak diterbitkan, namun hanya sekian yang benar-benar dapat dinyatakan sebagai artikel berkualitas jurnal.

Jangan salah sangka! Bukan berarti menulis untuk jurnal ilmiah itu sulit.  Suatu hal yang pasti, jika anda hendak menerbitkan artikel pada jurnal dari skripsi/tesis/disertasi anda, perlu suatu perombakan pada bentuk serta komposisi tulisan.

Seringkali penulis bertanya pada saya: kapan paling cepat artikel saya dapat dipublikasikan? (Seakan-akan pengelola-lah yang membuat lama terbitnya tulisan).  Jawabannya adalah sangat TERGANTUNG pada kemauan penulis untuk mengikuti aturan main jurnal yang bersangkutan serta melakukan revisi yang diminta.  Minimal, ikuti selingkung (baca: kebijakan editorialnya).  Semakin teliti anda mempersiapkan tulisan, semakin cepat pula publikasi anda.  Pengelola juga sangat ingin kok menerbitkan tulisan anda! 🙂

Hal-hal lain mengenai kiat penulisan artikel ilmiah (sebatas pemahaman saya) dapat dilihat pada file terlampir.

2013_Kiat Penulisan Artikel Ilmiah_Ari K

 

Posted in Miscellaneous | Tagged | Leave a comment