Category Archives: Riset Akuntansi Non Positif

“Memasak” akuntansi, yuk

Membuat masakan itu tidak sesederhana memotong, menumis, atau membumbui. Segala masakan dimulai dengan niat, terlebih cinta. Artikel ini pernah dipresentasikan di acara TEMAN3 Bali, lalu dimuat di Jurnal Riset Aplikasi Akuntansi dan Manajemen terbitan Politeknik Negeri Malang.

Sila unduh 🙂

Unduh Artikel

Posted in Publikasi Saya, Riset Akuntansi Non Positif | Tagged , , , | 1 Comment

“Sepucuk Surat untuk Tuhan” (Materi Workshop Metode Penelitian dan EndNote di Universitas Mercu Buana)- 25-27 Agustus 2015

 

Apa jadinya jika ego kecendekiaan mewarnai cara pencarian ilmu pengetahuan? Apa jadinya jika semua bersitegang bahwa kebenaran yang dimiliki setiap orang dianggap sebagai kebenaran mutlak? Jangan-jangan malah kebenaran yang kita miliki justru jauh dari kebenaran itu sendiri…

Mari kita renungi bersama

🙂

Berikut adalah materi yang disampaikan pada Workshop Metode Penelitian di Universitas Mercu Buana, Jakarta.

Sila unduh…

Unduh materi

Posted in Riset Akuntansi Non Positif | Leave a comment

Catatan Etnografis

Beberapa kali saya membaca skripsi/tesis/disertasi  akuntansi yang mengklaim menggunakan etnografi.  Sayangnya, beberapa bahkan hampir semua kehilangan ruh etnografi karena tidak menampilkan satu hal: CATATAN ETNOGRAFIS.

 

Writing ethnographic fieldnotes- is the primordial textualization that creates a world on the page and ultimately shapes the final ethnographic, published text.” (p16)

 

Tahukah Anda apa arti PRIMORDIAL?

 

Primordial memiliki arti “utama”, “pokok”, “hal yang harus dilakukan pertama kali sebelum melakukan hal lain”.

 

Benar…

 

Poin penting suatu pekerjaan etnografi adalah membuat catatan etnografis (ethnographic fieldstone). Ini dilakukan dengan cara melakukan pencatatan sistematis pada saat seorang etnografer mulai melakukan proses observasi partisipasi langsung. Apa yang membuat studi etnografi unik?

 

Two interconnected activities comprise the core of ethnographic research: (1) firsthand participation in some initially unfamiliar social world and (2) the production of social accounts of that world by drawing upon such participation. (p1)

 

Satu hal yang tentu menarik dari syarat pokok etnografi adalah “initially unfamiliar world”. Artinya memang jika seseorang kemudian mengatakan “Saya mau studi etnografi di budaya Maluku, karena Saya kebetulan orang Maluku”, maka hal ini sebenarnya menggugurkan kemampuan etnografinya. Mengapa? Hal ini terjadi karena elemen “unfamiliar” sudah tidak lagi dimiliki sang etnografer. Akibatnya memang, ia menjadi lebih tidak sensitif pada hal-hal yang seharusnya bisa diangkat. Misalnya seorang yang memiliki darah Madura dan paham budaya Carok, lalu melakukan studi etnografi tentang carok, tidak akan menemukan hal-hal “baru” sebanyak seseorang yang tidak mengenal budaya carok.

 

Kembali ke catatan etnografi sebagai karakter inti etnografi.  Seperti apa catatan etnografis itu?

 

Writing field notes descriptions then, is not so much a matter of passively copying down “facts” about “what happened”. Rather, such writing involves active processes of interpretation and sense-making…in this respect, it is important to recognise that field notes involve inscriptions of social life.

 

The ethnographer “inscribes” social discourse, he writes it down. (p8)

 

Kata benda “inscription”- yang kata kerjanya adalah  “inscribing” berbeda dengan kata “transcription” yang kata kerjanya adalah “transcribing”. Transcribe memiliki arti “to write, type, or print out fully from speech, notes”; artinya secara utuh menangkap apa yang diungkapkan dari berbagai sumber.  Dalam hal ini, misalnya jika Anda melakukan wawancara, lalu hasil wawancara diketik ulang tanpa menghilangkan seluruh hasil wawancara termasuk “mmm…” atau “ooo…”, maka inilah transkripsi.

 

Di sisi lain, “inscribe” yang diartikan menuliskan, juga memiliki arti “put one’s signature”… artinya memang bagaimana seorang etnografer menuliskan ulang situasi yang ia observasi sangat tergantung dari cara ia melihat situasi tersebut.  Catatan etnografis memiliki “signature” etnografernya yang sangat khas. Oleh karena itu menjadi sangat wajar apabila satu kondisi yang sama dapat dimaknai secara berbeda oleh etnografer yang berbeda.

 

Lalu bagaimana dengan reliabilitas temuan jika satu etnografer memaknai hal yang berbeda dengan etnografer lain?

 

Nah, kalau Anda berpikir seperti ini, artinya Anda masih terjebak dalam pola pikir, hallmarks of positivism research, alias objektivitas sebagai kesahihan sebuah hasil penelitian. Perlu diingat, bahwa etnografi tidak berada pada paradigma fungsionalis yang menekankan pentingnya unbiased data.

 

Oleh karena itu pulalah, ada satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang etnografer: yaitu memisahkan antara metode dan temuan. Cara mengambil data dan temuan- termasuk respon emosional peneliti- akan tercakup utuh dalam catatan etnografis.

 

Kapan menulis catatan etnografis?

 

Jawabannya tentu sejak Anda memasuki lapangan. Bagaimana jika pada saat tersebut tidak memungkinkan bagi Anda untuk menulis catatan etnografis? Lakukan dahulu apa yang disebut dengan “jotting”. Ini adalah cara untuk menampilkan hal-hal utama yang harus dibahas lebih lanjut dalam catatan etnografis.  Yang jelas, saat Anda memiliki kesempatan tercepat untuk membuat catatan etnografis, jangan ditunda.

 

Sumber utama:

Writing Ethnographic Fieldnotes

Robert M. Emerson, Rachel I. Fretz, Linda L. Shaw

The University of chicago Press, 1995

 

 

Posted in Riset Akuntansi Non Positif | 2 Comments

Materi Kuliah Tamu Penelitian Kualitatif di STIE PERBANAS 2015

Salam,

Alhamdulilah, kali kesekian dipercaya untuk berbagi tentang penelitian kualitatif.  Kali ini di STIE PERBANAS Surabaya. Sila unduh, semoga bermanfaat.

2015_Penelitian Kualitatif_STIE PERBANAS

More Galleries | 2 Comments

Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif dalam Riset Akuntansi

Salam,

Minggu lalu saya diajak diskusi di acara Forum Reboan, dosen akuntansi Universitas Trunojoyo Madura (UTM).  Berikut materi yang disampaikan (sekadar berbagi pula) 🙂

2014_Qualitative Quantitative

Posted in Riset Akuntansi Non Positif | Tagged | Leave a comment

Artikel tentang Pembelajaran Manajemen Keuangan Syariah (Best Paper di Seminar Ekonomi Islam, 11-12 Oktober 2014 Kendari )

Artikel ini ditulis oleh saya dan Virginia Nur Rahmanti tentang bagaimana sebenarnya kita sering sekali sekadar mengerudungi suatu hal yang bersifat konvensional/pragmatis dan langsung mengklaim kesyariahannya, tanpa mengindahkan substansi di baliknya.

Hal serupa terjadi pada mata kuliah Manajemen Keuangan Syariah.  Ternyata setelah ditelaah, ditemukan bahwa substansi yang diajarkan pada Manajemen Keuangan Syariah sama dengan apa yang diajarkan di Manajemen Keuangan konvensional (non-syariah); termasuk tentang teknik penghitungan manajemen risiko).  Syariah hanya berkutat pada halal dan non riba (yang gugur pada kebolehan penggunaan metode anuitas),  namun tidak secara substansi membahas konsep keadilan (‘adalah).
 
Silakan baca.  Artikel ini akan direvisi ulang untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah.  Kami membuka masukan 🙂
 
2014_Kamayanti Virginia_Kendari
Posted in Pendidikan Akuntansi, Publikasi Saya, Riset Akuntansi Non Positif | Tagged | 1 Comment

Publikasi tentang CSR pada International Journal of Research in Commerce, Economics and Management

Kali ini saya mengunggah sebuah artikel dari tesis mahasiswa bimbingan saya: Budhananda Dewi yang alhamdulillah diterbitkan di IJRCEM berjudul “Development of Sustainability Reporting: Case Study in PT. TIMAH (persero) Tbk.”

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menambahkan analisis perkembangan Sustainability Reporting PT. TIMAH melalui Teori Institusionalisasi.  Silakan membaca 🙂

IJRCM, 2014, Vol 4, Issue 7, pp 15-21

Posted in Publikasi Saya, Riset Akuntansi Non Positif | Tagged | Leave a comment

Unmasking CSR- (published in “Asian CSR and Sustainability Review”)

This article discusses the Corporate Social Responsibility (CSR) reporting that is disclosed by
pulp and paper industry in Indonesia. Although these organizations’ activities are similar but their approaches to corporate social reporting (CSR) issues differ. The pulp and paper industry is chosen for its competing and conflicting objectives: between its deforestation operation and environmental sustainability. This situation raises skepticism to the use of CSR towards environmental sustainability by the pulp and paper industry. For this reason, to analyze the functions of CSR, the Hegelian dialectic view is used since it views the world as one of constant change arising from thesis, antithesis and synthesis. This paper examines the thesis of how CSR reporting has been a vehicle for the corporations to be more concerned on social and environmental well being. It also examines the antithesis of how CSR reporting could be constructed through accounting language to legitimize the corporations’ destructive activities to the society and the environment. It is hoped that  through this discussion, a new synthesis would arise that reconcile the opposing views, and bring CSR reporting to an accepted notion for both parties.

Enjoy! 🙂

Dapat juga diunduh di asiancsr.com/

2011_Asian CSR Vol 1

 

Posted in Non-Positivistic Research Methodology, Publikasi Saya, Riset Akuntansi Non Positif | Leave a comment

Penggunaan Teori Kritis untuk Riset Akuntansi Interpretif? (Bisakah?)

Terkadang seorang peneliti mengklaim bahwa ia menggunakan paradigma kritis HANYA karena alat analisis yang digunakan adalah teori kritis.  Klaim ini tidak sepenuhnya benar.  Yang perlu dipahami dalam paradigma kritis adalah tujuan penelitian yang ingin melakukan emansipasi dan perubahan.  Jadi, jika teori kritis digunakan untuk memetakan fenomena yang sedang terjadi, maka penelitian tersebut tidak dapat dikatakan sebagai penelitian dalam paradigma kritis, namun bisa jadi telah masuk dalam paradigma interpretif.

Misalnya saja, jika ada penelitian tentang fenomena privatisasi BUMN yang kemudian dianalisis melalui “kacamata” Marhaenisme, maka penelitian tersebut tidak dapat dikatakan berada dalam paradigma kritis jika tujuannya adalah telaah apa yang telah terjadi pada BUMN tersebut.  Klaim paradigma kritis ala Marhaen dapat dicapai jika, misalnya,  penelitian tersebut mengkritisi dan menghasilkan konstruksi cara/strategi untuk menghindari privatisasi untuk melindungi kepentingan rakyat kecil.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah karakter teori kritis yang digunakan.  Setiap teori kritis pasti memberikan sebuah cara untuk melakukan perubahan dan pembebasan.  Teori Kritis Marxis, misalnya, menyarankan pengaburan batas kelas proletar dan borjuis untuk menghilangkan jeratan kapitalisme.  Disebutkan:

“Marx is here explicitly concerned with the phenomenon that is commonly described today as the separation of ownership and control. He discusses what he calls the “transformation of the really functioning capitalist into a mere director, an administrator of alien capital, and of the owners of capital into mere owners, mere money capitalists”.

It is a “point on the way to the transformation of all functions in the process of reproduction hitherto connected with capital ownership into mere functions of the associated producers, into social functions” (p. 478). The joint-stock company, in other words, is halfway to the communist—and that means class-less society.  (Dahrendorf 1959:22).  Classes do not constitute themselves as such until they participate in political conflicts as organized groups.

Teori kritis lainnya seperti Habermas menggunakan praxis untuk melakukan perubahan yang disepakati bersama melalui rasionalisasi aksi-komunikasi.  Gramsci menyarankan strategi kounter-hegemoni untuk melawan hegemoni.

Karakter-karakter teori ini seharusnya muncul tidak hanya dalam metodologi namun juga dalam hasil penelitian.  Sebenarnya cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan “ruh” karakter teori tersebut yang secara khas inheren.  Misalnya, peneliti dapat menggunakan bahasa-bahasa seperti “bewust” untuk menjelaskan hasil penelitian berbasis Marhaen, atau “intellectual organ” untuk menjelaskan hasil pada penelitian berbasis Gramsci, dst.

Paradigma kritis juga harus sarat dengan refleksivitas kritis.  Ketidak setujuan atas suatu fenomena perlu dipertegas (walau dengan bahasa yang “lebay” seperti “meggugat” “mendobrak”, dan “membenturkan”).  Tentu saja perlu pula justifikasi ilmiah bahwa pendapat serupa pernah dilontarkan.  Hindari tata bahasa yang cenderung normatif, yaitu yang membenarkan teori yang ada tanpa refleksivitas.

Dengan demikian tidak hanya hasil akhir penelitian yang merupakan pembebasan, dan ruh teori kritis akan mewujud dalam tulisan.  Selamat mencoba! 🙂

Posted in Riset Akuntansi Non Positif | Tagged | 14 Comments

Buka Jasa analisis DATA KUALITATIF menggunakan FENOMENOLOGI, HERMENEUTIKA, dan ETNOGRAFI dengan HARGA MURAH (Bag 2)

Sejak posting-an pertama saya mengenai Buka Jasa analisis DATA KUALITATIF menggunakan FENOMENOLOGI, HERMENEUTIKA, dan ETNOGRAFI dengan HARGA MURAH (Bag 1) ternyata banyak pula yang datang pada saya untuk menanyakan jasa tersebut…

Hehehe… dengan demikian sebenarnya ada yang belum dipahami tentang penelitian non-positif (kualitatif- walau sebenarnya penggunaan penelitian kualitatif bisa jadi misleading, karena ada penelitian positif yang juga kualitatif).

Penawaran pada posting-an saya tersebut tentu saja tidak bisa dijalankan karena terlepas dari fakta bahwa fenomenologi hermeneutika, dll adalah “alat” riset yang di dalamnya terdapat tahapan-tahapan pengolahan data, ada satu “alat” utama yang hanya ada pada peneliti sendiri- yaitu refleksivitas.

Jika SPSS/AMOS/PLS/SEM menawarkan otomatisasi pengolahan data dari semua yang telah di-input-kan, dan memberikan hasil yang kemudian diinterpretasikan oleh peneliti,  maka fenomenologi, hermeneutika, dlll tidak menawarkan “otomatisasi” ini.  Proses abstraksi “values” harus tetap dilakukan peneliti.  Hal ini tentu membutuhkan refleksi atas pengalaman peneliti saat berada pada situs penelitian- yang tidak bisa dikerjakan oleh orang lain.

Pengalaman ini termasuk rapport- kedekatan antara peneliti dengan apa atau siapa yang sedang ditelitinya.  Bahkan pada ekstrim tertentu, penelitian perlu menyajikan rasa yang timbul dalam diri peneliti.  Apakah mungkin hal seperti ini dilakukan oleh orang lain, yang tidak terjun langsung dalam penelitian?

Jadi sebelum ada pertanyaan lanjutan lagi yang ditujukan pada saya: “berapa harga olah data pakai fenomenologi, hermeneutika, dll?”… saya tegaskan kembali: “Peneliti adalah alat utama pengolahan data kualitatif, bukan orang lain atau bahkan pemberi jasa olah data” :).

Nggak jualan lho yaa…

 

 

Posted in Riset Akuntansi Non Positif | Tagged | Leave a comment