Protected: Silabus dan materi Sesi 1 Perilaku Keorganisasian

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in Perilaku Keorganisasian | Enter your password to view comments.

Protected: Financial Management and Capital Market Syllabus

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in Financial Management | Enter your password to view comments.

Course Outline- Multiparadigm Accounting

In this course we will see that there are various ways of seeing and developing accounting.  These ways are basically depended upon our faith (ontological foundations)…  Please check out the course outline and download the articles as required for this course.

 

See you in class in sya Allah

14_Multiparadigm Accounting

Roslender, Dillard – 2003 – Reflections on The Interdisciplinary Perspectives on Accounting Project

Merino 2005

Abeysekera PAT a ten year perspective

integral_paradigm

englighment-islamic accounting tony tinker

AAAJ91_critical_dillard

Barzelay_Accounting for privatisation

Nature of Man_jensen_meckling

Friedman_1970

Accounting and Civilization

 

Posted in International Class, Multiparadigm Accounting | Leave a comment

Esensi “Nobody”…

Beberapa waktu lalu (H-1) Ramadhan, saya mengubah nama di bbm profile saya dengan “nobody”.

Ternyata banyak juga yang protes 🙂

Ada yang bilang:

“Ibu bukan nobody buat saya- jangan ganti begitu- jadi sedih rasanya”

“Kamu lagi ada masalah sama siapa? kamu gpp?”

Komentar-komentar semacam itu menjadi cukup menarik karena menunjukkan betapa semua orang tidak suka dengan sebutan “nobody” padahal sebenarnya menjadi nobody seharusnya menjadi impian semua manusia yang ingin pulang kepada Allah… (menurut saya  lho ya…) 🙂

Ini ada cerita pendek:

Alkisah si Fulan mengetuk pintu Allah….

Allah lalu bertanya “Apa hak mu untuk masuk rumahKU?”

si Fulan menjawab “aku telah mematuhi semua perintahMU, ijinkan aku masuk ke rumahMU”.

Pintu tetap tertutup.

Kali kedua, Si Fulan kembali mengetuk pintu Allah…

Allah bertanya “Apa hak mu untuk masuk rumahKU?”

Si Fulan menjawab “aku telah menjauhi semua laranganMU, ijinkan aku masuk ke rumahMU”.

Pintu tetap tertutup.

Kali ketiga, si Fulan mengetuk pintu Allah…

Allah  bertanya “Apa hak mu untuk masuk rumahKU?”

Si Fulan menjawab “aku bukan siapa-siapa tanpa rahmatMU”

Pintu terbuka…

Kisah tadi sebenarnya menjelaskan bahwa predikat “nobody” – bukan siapa-siapa- adalah bentuk kesadaran tertinggi seorang manusia atas Rabb nya.  Kita terlalu sering membanggakan- siapa diri kita- gelar kita- anak kita- suami/istri kita- orang tua kita- harta kita agar kita menjadi “somebody”.  Bahkan jika bukan tentang materi, kita membanggakan non-materi, membanggakan spiritualitas kita- haji kita- khatam kita- ODOJ kita- pengajian kita- sholat kita- shadaqah kita- kebaikan kita. Semua agar kita  menjadi “somebody”.  Kita sering berpikir ulang untuk melakukan hal yang seharusnya benar, karena kita takut pandangan orang terhadap diri kita menjadi lebih rendah- karena kita ingin tetap dianggap “somebody” oleh orang-orang… Kita lebih suka terjerat kebenaran “umum” yang belum tentu benar, karena kita ingin jadi “somebody”.

“Aku harus ikutan korupsi- biar gak dibilang sok suci”-

“Aku harus ikutan menghujat- biar dibilang setia kelompok baiat”-

“Aku harus punya HP terbaru itu- biar gak dibilang ketinggalan jaman”-

Ah…betapa terkungkungnya kita oleh lingkungan untuk menjadi “somebody”.

Menjadi “nobody” bukan berarti tidak mau melakukan apa-apa.  Tetap menjadi keyakinan kita bahwa manusia diciptakan untuk mengabdi pada Tuhan melalui tugas yang diberikanNYA menjadi khalifah bumi.  Dalam ke”nobody”an, tugas ini harusnya diemban.  Justru dengan menjadi “nobody” tugas berat ini akan diemban dengan tingkat keikhlasan tertinggi.

“Aku belajar karena Allah- bukan agar nanti dapat gelar dan dikagumi orang”-

“Aku menulis karena Allah- bukan agar aku menjadi terkenal”-

“Aku berjuang karena Allah- bukan agar dipandang sebagai pahlawan”-

Dengan menjadi “nobody”, suatu saat nanti jika waktu pulang tiba, kita bisa masuk ke rumahNYA karena rahmatNYA.  Dengan menjadi “nobody” kita menggapai kebebasan penilaian duniawi dalam kebenaran ilahiyah.

Saya masih belajar menjadi “nobody”- semoga kelak dapat mencapai keikhlasan tertinggi itu- Bagaimana dengan anda? 🙂

Posted in Miscellaneous | Tagged | 2 Comments

Saat kita mereduksi Tuhan…

This gallery contains 1 photo.

Ada suatu trend baru dalam kehidupan saya akhir-akhir ini…khususnya pada bulan Ramadhan.

Saat ia datang, saya tidak terlampau bahagia… biasa saja…

Saat ia beranjak, saya juga tidak terlampau sedih… biasa saja…

Awalnya, saya merasa bahwa ini adalah suatu fase kemunduran dalam kehidupan spiritual saya.  Betapa tidak, dahulu begitu puasa Ramadhan dimulai, rasanya target-target sudah ditetapkan. Mengaji Al Quran harus khatam 1 bulan (karena sebelumnya tidak).  Sholat sunnah harus dilakukan, mulai sholat fajar, sholat dhuha, sholat tarawih, sholat tahajud, sholat witir, dan lain-lain.  Nafsu ibadah tiba-tiba melonjak 1000 persen.  Begitu pula saat Ramadhan menghilang.  Dulu, rasanya sedih luar biasa.  Hilang sudah kesempatan mendulang pahala berlimpah, dan menghapus dosa yang menimbun.  Timbul penyesalan yang dalam mengapa tidak lebih baik melakukan hal-hal yang seharusnya bisa dilakukan pada Ramadhan.  Timbul penyesalan bahwa saya sudah menyia-nyiakan Ramadhan.

Namun, tidak kali ini, beda sekarang.

Seperti yang tadi saya sampaikan, semua terasa biasa saja…

Lalu saya menyadari bahwa ini insyaAllah bukan kemunduran pada kehidupan spiritual saya.  Jika dulu saya begitu senang mendapatkan kesempatan mencari pahala dan menghilangkan dosa, itu karena saya jauh dari Tuhan (bukan hak saya pula untuk mengatakan kini dekat. Saya hanya berbaik sangka: bukankah Tuhan adalah sebagaimana prasangka hambaNYA?). Dulu saya menganut paham keterpisahan antara Tuhan dan dunia.  Ramadhan dulu menjadi jalan kepada Tuhan, karena dunia begitu jauh dari Tuhan.  Sehingga saat ia datang, saya diliputi kegembiraan luar biasa, dan saat ia pergi, saya sedih luar biasa.

Namun sekarang, saya sadar bahwa Tuhan tidak terpisah dari dunia saya.  Tidak satu haripun saya tidak berbicara tentang Tuhan. Sebagai dosen, tidak satu haripun saya tidak memperjuangkan kesatuan Tuhan dan ilmu (akuntansi).  Setiap hari adalah untuk Tuhan. Insya Allah. Ini bukan bermaksud takabur atau riya’… Sebagai manusia saya sadar bahwa banyak yang harus diperbaiki… Namun kesadaran semacam ini memberi kesan berbeda tentang Ramadhan.

Mungkin karena itu Ramadhan bagi saya adalah berkah, bukan kebahagiaan luar biasa… karena setiap hari sudah luar biasa untuk saya…

Euforia lampau itu  juga diakibatkan keyakinan saya bahwa Tuhan memberikan berlipat-lipat pahala pada Ramadhan (tidak seperti bulan-bulan lain).

Astaghfirullah, bukankah keyakinan saya terakhir tadi telah mereduksi kekuasaan Tuhan.  Apa hak kita untuk mengatakan Tuhan akan memberikan lebih banyak pahala di Ramadhan dibanding di bulan lain?  Bukan kah itu hak prerogatif Tuhan?  Suka-suka Ia mau memberi berapa banyak rahmat dan ampunan kapan dan di mana.  Apakah hanya doa di Ramadhan yang diijabahi? Apakah hanya di Multazam, Roudhoh, Mekah?  Bukankah hak Tuhan untuk mengijabahi doa hambaNya di Malang, atau lokalisasi sekalipun?  Ingatkah kita kisah pelacur yang masuk syurga karena memberi minum seekor anjing?  Rahman dan rahimNya yang tak berbatas tidak bisa dibatasi oleh Ramadhan.

Bukan berarti Ramadhan tidak perlu disambut.  Dalam kebiasaannya, Ramadhan dan ritualnya secara luar biasa mampu merekatkan hubungan antara keluarga, tetangga, dan rekan.  Ramadhan memberi kesempatan bagi kita yang belum seimbang- untuk menyeimbangkan kembali kehidupan kita untuk tidak lagi berat sebelah pada dunia, tetapi pada akhirat.  Dunia adalah jalan menuju bagi akhirat.

Entahlah… mungkin saya salah 🙂

Terlepas dari itu, gema takbir selalu mampu membuat kulit dan hati bergetar…

bacaan teks takbirhari raya lengkap

Semoga kita menjadi manusia-manusia yang tidak gemar mereduksi Tuhan…. Amiiiin…

Mohon maaf lahir batin, jika pembaca tidak berkenan membaca tulisan hasil refleksi diri ini… Selamat hari raya Idul Fitri 1435H.

Malam takbiran, 27 Juli 2014, 20:44 WIB

More Galleries | Leave a comment

Publikasi tentang CSR pada International Journal of Research in Commerce, Economics and Management

Kali ini saya mengunggah sebuah artikel dari tesis mahasiswa bimbingan saya: Budhananda Dewi yang alhamdulillah diterbitkan di IJRCEM berjudul “Development of Sustainability Reporting: Case Study in PT. TIMAH (persero) Tbk.”

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menambahkan analisis perkembangan Sustainability Reporting PT. TIMAH melalui Teori Institusionalisasi.  Silakan membaca 🙂

IJRCM, 2014, Vol 4, Issue 7, pp 15-21

Posted in Publikasi Saya, Riset Akuntansi Non Positif | Tagged | Leave a comment

Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Akuntansi

Berikut adalah materi yang diamanahkan pada saya untuk disajikan pada Forum Reboan “Akuntansi Berbagi” di Jurusan Akuntansi, Universitas Trunojoyo Madura.  Mari berbagi… 🙂

Klik di sini untuk Unduh Materi

Posted in Non-Positivistic Research Methodology | Leave a comment

Seluruh materi Etika Bisnis dan Profesi

Salam,

Berikut ini merupakan materi dan silabus Etika Bisnis yang didiskusikan di kelas.  Sila diunduh dan dibaca untuk kita bahas bersama.

12. Unti&Ari-international journal

A Critique to Accounting Ethics

Accounting and Financial Ethics, From Margin to Mainstream

Beyond Arthur Anderson Ethical Behavior and Securities Trading

Ethics for Management Consultants Ethics in Government

Etika di KAP-Unti Ludigdo

Independency in Corporate Governance

The Audit Committee Ro Leadership and ethics

Pidato-Pengukuhan-Guru-Besar-Unti-Ludigdo

Professionalism, ethical codes and the internal auditor

SAP E&B MSA-2014nap

The Ethics of Corporate Governance

The Ethics of Tax Planning

The Legitimacy of Accountants participation in Social and Et

AA1000APS 2008

Posted in Etika Bisnis (Matrikulasi), Perkuliahan S3 | Leave a comment

Unmasking CSR- (published in “Asian CSR and Sustainability Review”)

This article discusses the Corporate Social Responsibility (CSR) reporting that is disclosed by
pulp and paper industry in Indonesia. Although these organizations’ activities are similar but their approaches to corporate social reporting (CSR) issues differ. The pulp and paper industry is chosen for its competing and conflicting objectives: between its deforestation operation and environmental sustainability. This situation raises skepticism to the use of CSR towards environmental sustainability by the pulp and paper industry. For this reason, to analyze the functions of CSR, the Hegelian dialectic view is used since it views the world as one of constant change arising from thesis, antithesis and synthesis. This paper examines the thesis of how CSR reporting has been a vehicle for the corporations to be more concerned on social and environmental well being. It also examines the antithesis of how CSR reporting could be constructed through accounting language to legitimize the corporations’ destructive activities to the society and the environment. It is hoped that  through this discussion, a new synthesis would arise that reconcile the opposing views, and bring CSR reporting to an accepted notion for both parties.

Enjoy! 🙂

Dapat juga diunduh di asiancsr.com/

2011_Asian CSR Vol 1

 

Posted in Non-Positivistic Research Methodology, Publikasi Saya, Riset Akuntansi Non Positif | Leave a comment

Rekapitulasi Nilai sebelum UAS (kelas CF)

Salam,

Berikut saya sampaikan nilai sebelum UAS.  Masih ada kesempatan memperbaiki diri…

Semangat!!!

2014_nilaiCF

Posted in Etika Bisnis dan Profesi, Perkuliahan S1, Uncategorized | Leave a comment