Tag Archives: Agama

Saat kita mereduksi Tuhan…

This gallery contains 1 photo.

Ada suatu trend baru dalam kehidupan saya akhir-akhir ini…khususnya pada bulan Ramadhan.

Saat ia datang, saya tidak terlampau bahagia… biasa saja…

Saat ia beranjak, saya juga tidak terlampau sedih… biasa saja…

Awalnya, saya merasa bahwa ini adalah suatu fase kemunduran dalam kehidupan spiritual saya.  Betapa tidak, dahulu begitu puasa Ramadhan dimulai, rasanya target-target sudah ditetapkan. Mengaji Al Quran harus khatam 1 bulan (karena sebelumnya tidak).  Sholat sunnah harus dilakukan, mulai sholat fajar, sholat dhuha, sholat tarawih, sholat tahajud, sholat witir, dan lain-lain.  Nafsu ibadah tiba-tiba melonjak 1000 persen.  Begitu pula saat Ramadhan menghilang.  Dulu, rasanya sedih luar biasa.  Hilang sudah kesempatan mendulang pahala berlimpah, dan menghapus dosa yang menimbun.  Timbul penyesalan yang dalam mengapa tidak lebih baik melakukan hal-hal yang seharusnya bisa dilakukan pada Ramadhan.  Timbul penyesalan bahwa saya sudah menyia-nyiakan Ramadhan.

Namun, tidak kali ini, beda sekarang.

Seperti yang tadi saya sampaikan, semua terasa biasa saja…

Lalu saya menyadari bahwa ini insyaAllah bukan kemunduran pada kehidupan spiritual saya.  Jika dulu saya begitu senang mendapatkan kesempatan mencari pahala dan menghilangkan dosa, itu karena saya jauh dari Tuhan (bukan hak saya pula untuk mengatakan kini dekat. Saya hanya berbaik sangka: bukankah Tuhan adalah sebagaimana prasangka hambaNYA?). Dulu saya menganut paham keterpisahan antara Tuhan dan dunia.  Ramadhan dulu menjadi jalan kepada Tuhan, karena dunia begitu jauh dari Tuhan.  Sehingga saat ia datang, saya diliputi kegembiraan luar biasa, dan saat ia pergi, saya sedih luar biasa.

Namun sekarang, saya sadar bahwa Tuhan tidak terpisah dari dunia saya.  Tidak satu haripun saya tidak berbicara tentang Tuhan. Sebagai dosen, tidak satu haripun saya tidak memperjuangkan kesatuan Tuhan dan ilmu (akuntansi).  Setiap hari adalah untuk Tuhan. Insya Allah. Ini bukan bermaksud takabur atau riya’… Sebagai manusia saya sadar bahwa banyak yang harus diperbaiki… Namun kesadaran semacam ini memberi kesan berbeda tentang Ramadhan.

Mungkin karena itu Ramadhan bagi saya adalah berkah, bukan kebahagiaan luar biasa… karena setiap hari sudah luar biasa untuk saya…

Euforia lampau itu  juga diakibatkan keyakinan saya bahwa Tuhan memberikan berlipat-lipat pahala pada Ramadhan (tidak seperti bulan-bulan lain).

Astaghfirullah, bukankah keyakinan saya terakhir tadi telah mereduksi kekuasaan Tuhan.  Apa hak kita untuk mengatakan Tuhan akan memberikan lebih banyak pahala di Ramadhan dibanding di bulan lain?  Bukan kah itu hak prerogatif Tuhan?  Suka-suka Ia mau memberi berapa banyak rahmat dan ampunan kapan dan di mana.  Apakah hanya doa di Ramadhan yang diijabahi? Apakah hanya di Multazam, Roudhoh, Mekah?  Bukankah hak Tuhan untuk mengijabahi doa hambaNya di Malang, atau lokalisasi sekalipun?  Ingatkah kita kisah pelacur yang masuk syurga karena memberi minum seekor anjing?  Rahman dan rahimNya yang tak berbatas tidak bisa dibatasi oleh Ramadhan.

Bukan berarti Ramadhan tidak perlu disambut.  Dalam kebiasaannya, Ramadhan dan ritualnya secara luar biasa mampu merekatkan hubungan antara keluarga, tetangga, dan rekan.  Ramadhan memberi kesempatan bagi kita yang belum seimbang- untuk menyeimbangkan kembali kehidupan kita untuk tidak lagi berat sebelah pada dunia, tetapi pada akhirat.  Dunia adalah jalan menuju bagi akhirat.

Entahlah… mungkin saya salah 🙂

Terlepas dari itu, gema takbir selalu mampu membuat kulit dan hati bergetar…

bacaan teks takbirhari raya lengkap

Semoga kita menjadi manusia-manusia yang tidak gemar mereduksi Tuhan…. Amiiiin…

Mohon maaf lahir batin, jika pembaca tidak berkenan membaca tulisan hasil refleksi diri ini… Selamat hari raya Idul Fitri 1435H.

Malam takbiran, 27 Juli 2014, 20:44 WIB

More Galleries | Leave a comment

Asal Filosofi Sains Moderen: The Popperian School (anti Tuhan?) [Bagian 2]

Melanjutkan pembahasan atas logical empiricism beberapa waktu lalu, kali ini saya akan mengangkat asumsi yang melandasi logical empiricism serta salah satu mazhab pembawanya: Popperian.

Apa itu mazhab Popperian?

Nah, kalau anda pernah melakukan penelitian yang menggunakan model pengujian hipotesis maka sebenarnya, anda bisa dikatakan termasuk penganut Popperian. Mengapa?  Lebih lanjut… apakah anda anti Tuhan? Jawabannya sebentar lagi…  🙂

Sir Karl Popper lahir di Vienna tahun 1902 dan mendapatkan gelar PhD pada tahun 1928.  Bayangkan umur 26, beliau telah meraih gelar akademik tertinggi dari Universitas Vienna. Cerdas luar biasa! Karya Popper yang monumental antara lain Logic der Forschung (The Logic of Scientific Discovery).  Beliau pernah menghadiri beberapa pertemuan Vienna Circle, namun menolak untuk disebut sebagai bagian dari anggotanya.  Walaupun demikian, ia setuju dengan sikap rasional atau yang ia sebut sebagai attitude of enlightenment.

Alasan mengapa ia menolak menjadi bagian dari Vienna Circle adalah karena ia melihat bahwa Vienna Circle masih menerima inductionism.  Sedangkan Popper merasa bahwa “…induction is invalid in EVERY sense and therefore UNJUSTIFIABLE… The belief that we use induction is a mistake.  It is kind of optical illusion

(Penjelasan: Deduksi adalah proses pencarian kebenaran yang berangkat dari teori, sedangkan induksi berangkat dari praktik.  Induksi seringkali dilakukan pada penelitian yang bersifat kualitatif).

Asumsi tentang ilmu yang anti-induksi ini memunculkan aliran baru yaitu CRITICAL RATIONALISM.  Popper memerangi relativisme intelektual.  Teori seperti Marxisme baginya menyesatkan karena peryataan tentang kebenaran tersebut tidak didukung “ilmu”.  Nah, maka muncullah suatu metode, dilandasi critical rationalism, yang menyatakan bahwa kita harus secara kritis menerima apa yang kita anggap benar melalui serangkaian ujian rasional.  Teori hanya bisa kita terima apabila kita tidak bisa menyalahkan (salah=false) teori tersebut.  Inilah kemunculan FALSIFIKASI.

Metode Falsifikasi memulai investigasi dengan MASALAH, dan kita mengambil masalah yang kita PERKIRAKAN dapat kita pecahkan secara RASIONAL. (Jadi tidak mengambil masalah yang kira-kira tidak akan dapat dipecahkan).  Selanjutnya, secara rasional kita harus menyediakan serangkaian solusi yang akan diuji kemampuannnya dalam menyelesaikan masalah. Solusi yang direncanakan ini berupa HIPOTESIS, yang akan melalui CRITICAL TEST untuk melihat apakah solusi ini dapat memecahkan masalah (hence= new theory).

Menurut Popper, sains harus dikembangkan dengan sangat berhati-hati… Tidak seperti para induksionis, maka ilmuwan belajar dari kesalahan mereka (memfalsifikasi teori), dan ini dilakukan secara trial and error.  Sebuah teori hanya dianggap benar apabila ia telah menjalani serangkaian tes kritis dan dinyatakan telah dikonfirmasi kebenarannya (confirmed/corroborated).

Baik, itu adalah asumsi fundamental dari logical empiricism Popperian… bagaimana dengan hubungannya dengan anti-Tuhan?

Kalau saya bertanya pada anda… mengapa anda beribadah? Apa jawaban anda? untuk mendapatkan kedamaian? untuk masuk surga? kebutuhan sebagai manusia? iman?

Semua jawaban itu tentu akan sangat sulit diterima karena tidak bisa difalsifikasi. They are all optical illusion :).  Apakah benar jika anda semakin sering beribadah maka anda akan masuk surga?  Apa bukti empirisnya?  Lebih jauh lagi… apakah ada Tuhan? Apa bukti empirisnya?

Maka semua jawaban tadi tentu sulit diterima sebagai KEBENARAN bagi penganut logical empiricism.

Saya jadi ingat sebuah buku yang saya baca dengan judul “Mind of God“.  Bagi kaum atheis, lebih disukai untuk menyatakan bahwa kebenaran rasional belum terungkap (melalui eksperimen) daripada menyatakan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara rasional karena semua berasal dari Tuhan.

Nah, apakah anda penganut logical empiricism? Atau apakah “ilusi’ juga merupakan kebenaran? 🙂

Tunggu kelanjutannya… insyaAllah

 

Posted in Pemikiran/Filosofi Akuntansi | Tagged , | Leave a comment

Simulakra: Realitas yang Telah Tergantikan Imaji

Kita ini sekarang hidup dalam dunia simulakra.  Ini adalah dunia di mana realitas sudah menjadi realitas yang merupakan kumpulan citra atau imaji.  Sederhananya, orang kini lebih percaya pada apa yang dapat mereka lihat di Facebook, Google, dst.  Demikian pula dengan moda komunikasi.  Manusia moderen lebih suka menghabiskan waktu mereka di HP atau android masing-masing.  Tidak jarang kita temui, satu keluarga yang sedang menghabiskan waktu bersama di sebuah restoran, namun saling tidak berbicara satu sama lain.  Chat menjadi sangat nyata, menjadi realitas sejati, dibandingkan kebersamaan fisik diantara mereka.

Konsep Simulakra yang dibawa Baudrillard ini adalah konsep posmoderen dan dapat pula dijadikan teropong dalam mengkaji realita akuntansi saat ini.  Artikel saya yang pernah diterbitkan di Jurnal Reviu Akuntansi Keuangan (JRAK) UMM ini mengkaji bagaimana akuntansi merupakan media yang dapat menyajikan realitas dan agama secara terpisah atau sebaliknya.  Pada masa lampau, akuntansi mewakili kepentingan stewardship agama yang kemudian dengan masuknya era pencerahan, agama terlepas dari akuntansi.  Ditengarai pula bahwa agama akhirnya digunakan untuk melegitimasi kepentingan pemenuhan ideologi kapitalisme dalam masa posmoderen ini.

Silakan diunduh…

542_umm_scientific_journal

Posted in Publikasi Saya, Riset Akuntansi Non Positif | Tagged , | Leave a comment

Penggunaan Teori Kritis Tjoet Njak Dhien dalam Riset Akuntansi

Artikel ini menelaah tumbuhnya Feminisme sebagai reaksi atas dominasi laki-laki atas perempuan. Dengan membandingkan teori kritis ‘laki-laki’ dengan feminisme ditemukan kesamaan karakter maskulinitas.  Karakter Feminisme Barat dalam keragamannya (Liberal, Radikal, Marxis/Sosialis, dan Posmoderen) sarat dengan tujuan penggulingan opresi laki-laki terhadap perempuan tanpa mengindahkan religiusitas.  Artikel ini menjelaskan keunggulan ‘Non-Feminis’ Indonesia dari Aceh, Tjoet Njak Dhien, yang mampu menawarkan pembebasan dan perubahan dengan fitrah perempuan Islam. Gaya hidup serta perjuangannya menjadi intisari Teori Kritis Tjoet Njak Dhien yang diturunkan ke dalam metodologi untuk riset akuntansi kritis.

Diterbitkan di JAMAL Vol 4 No 3, Desember 2013 (www.jamal.ub.ac.id)

13_4_3_Tjoet Njak Dhien

 

More Galleries | Leave a comment