Tag Archives: kapitalis

A Critical Study of IAS 41: Biological Asset Valuation (Accepted at the International Conference on Accounting Studies), Malaysia

In critical paradigm, regulation is seen as a domination of ideology.  In this paper, we explored how IAS 41 has marginalized local farmers as biological asset is reduced into mere material asset.  Written by one of UB’s finest undergraduate student and revised by us (supervisors), this paper alhamdulillah made it through the selection process to be presented in the International Conference on Accounting Studies in Malaysia and has the chance to be published by a Scopus-indexed journal under Elsevier and Science Direct: Procedia.

This is still in the form of working paper. We use ENGLISH to FIGHT Western DOMINATION over Indonesia.

Enjoy…

Latest… already published:

CLICK HERE for FULL ARTICLE

Posted in Publikasi Saya | Tagged | Leave a comment

Akuntansi yang melahirkan ideologi Kapitalisme

Jika selama ini dipahami bahwa ekonomi disokong oleh akuntansi, maka argumen lain menjelaskan bahwa justru akuntansi-lah yang melahirkan kapitalisme. Artikel yang ditulis Chiapello (2007) secara gamblang menjelaskan pemikiran Sombart, Weber, serta kritikan atas pemikiran mereka.  Bagaimana akuntansi melahirkan kapitalisme? Jawabannya melalui Double Entry Bookkeeping (DEB):

  •  Keeping accounts encouraged order and clarity
  •  The idea of accumulation also developed thanks to DEB
  •  Rationalisation of commerce became possible. DEB reflects the “close cohesion between the reign of the principal of accumulation, and the trend towards rationalisation”, both being founded on “codification of the business world into figures
  •  DEB created a “system of concepts”, including “those that are familiar to us because we use them to understand the world of the capitalistic economy
  •  DEB’s contribution to the separation of the business and its owner. “The existence of the capitalist enterprise”, he says, “must be considered as the organisation of production in such as way as to free each undertaking from its owner (…) it must be acknowledged that accounting has contributed significantly to this emancipation.”

Kalau DEB merupakan cikal bakal kelahiran kapitalisme, bagaimana dengan akuntansi syariah yang masih menggunakan DEB?

Unduh:

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Buku Induk Ekonomi Islam

Pemikiran Muhammad Baqir Ash Shadr merupakan satu rujukan Ekonomi Islam di dunia.  Buku ini membahas tentang doktrin ekonomi, perbedaan ekonomi Islam dan ekonomi kapitalis, komunis, dan sosialis.

Buku ini juga mengulas tentang Teori Produksi dan peran negara dalam ekonomi Islam.  Beberapa buku ekonomi Islam selalu membahas pentingnya peran negara.  Jadi, jika dikaitkan dengan kapitalisme/neo-liberalisme yang mereduksi peran negara, tentu jelas bahwa ekonomi kapitalis tidak sejalan dengan nilai Islam.  Seharusnya nggak boleh ada itu yang namanya spiritual/religious capitalism.

Selamat membaca…

IQTISADUNA1-2

Posted in Manajemen Keuangan Syariah, Perkuliahan S2 | Tagged , | Leave a comment

Asal Filosofi Sains Moderen: Popperian dalam Ekonomi dan Akuntansi (anti Tuhan?) [Bagian 3]

Setelah saya membahas tentang Mazhab Popper (Popperian) di Bagian 2, kali ini saya angkat mencoba mengangkat bagaimana Popperian masuk ke dalam wilayah Ekonomi dan Akuntansi.  Salah satu alasan mengapa Popper tertarik dengan ekonomi ialah karena ia menganggap ekonomi adalah ilmu yang kurang berkembang dan kurang berhasil dibandingkan ilmu alam.  Ia menganggap bahwa jika segala sesuatu dapat diukur secara matematis, maka ekonomi akan mengalami apa yang ia sebut sebagai sebuah revolusi- Newtonian Revolution.

Menarik untuk dicermati, bahwa Popper secara spesifik “mengincar” untuk memengaruhi perkembangan sains sosial melalui asumsi filosofis yang sama dengan sains alam (natural science).

Sains Alam (eliminasi error)- Sains Sosial (eliminasi ketidakbahagiaan)

Asumsi fundamental inilah yang menyebabkan hilangnya batas antara sains alam dan sains sosial. Semua dianggap sama.  Oleh karena itu, sebagaimana sains alam, Popper menolak historicism (asumsi fundamental yang digunakan oleh paradigma kritis seperti Marxism’s Historical Materialism).

Baginya, historicism adalah false method dan buah pikirnya ditulis dalam sebuah buku “The Poverty of Historicism“.  Di sini ia menyatakan bahwa setiap individu mengendalikan arah hidupnya masing-masing.   Tidak ada kekuatan sejarah yang dapat menentukan masa depan orang-orang.  Olah karena itu sains sosial HARUS dimulai dengan METHODOLOGICAL INDIVIDUALISM.  Popper menyatakan dalam bukunya tersebut (1960):

“It is quite unassailable doctrine (doktrin yang tidak terbantahkan) that we must try to understand all collective phenomena as due to the actions, interactions, aims, hopes, and thoughts of individual men, and as due to traditions created and preserved by individual men

Saya jadi teringat buku Daniel Bell tentang Kapitalisme yang menyatakan bahwa dalam masyarakat kapitalis, ukuran kebahagiaan selalu berawal dari diri individual bukan masyarakat.  Menurut bacaan saya, dalam banyak hal, Popper (yang mana FALSIFIKASI nya telah digunakan sebagai metode yang dianggap saintifik bagi ekonomi dan akuntansi) sebenarnya merupakan tautan yang kuat dengan kapitalisme.

Bukankah kemudian nyata bahwa kebahagiaan diri merupakan tujuan akhir penggunaan Popperian pada ilmu ekonomi (kapitalis) dan akuntansi (kapitalis?).  Bukti nyata adalah pada The Nature of Men-nya Jensen dan Meckling tentang rational men.  Lebih dalam lagi ditemukan pada Teori Akuntansi Positif-nya Watts dan Zimmerman, yang kemudian berlanjut pada Agency Theory.  Semua mengusung “kebenaran” yang sama: setiap individu adalah manusia rasional yang ingin memaksimalisasi keuntungan.

Kira-kira jika teori ini terus menerus digaungkan… apakah tidak membentuk praktik dan realita (kalau istilahnya Pierre Bordieu adalah doxa)?  Sehingga nyata pula bahwa Laporan Laba Rugi menjadi lebih populer (saintifik?) dibanding Value Added Statement.

Jadi, setelah memahami hal ini, jika metode logical empiricism- Critical Rationalism (Falsification) digunakan, apakah tidak melenceng dari nilai kerakyatan (bukan individu) yang dianut Indonesia; nilai kesatuan ummah (bukan individu) yang dianut Islam?

Posted in Pemikiran/Filosofi Akuntansi | Tagged , | Leave a comment

A Defence against the Pragmatist (Ssshhh…)

They ask:

Why do you venture into the alternatives?

Why do you seek to find answers in the abyss?

Why do you propose ideas that we will surely dismiss?

Why do you wander aimlessly around legends and myths?

 

I answer:

It is not mere pleasure, it is my beliefs

that knowledge might be found within the whispers of the dancing leaves

or even in the soothing calmness of the breeze

for the universe is filled with answers from God that we can feast

to quench the thirst of the unimaginable (to say the least)

As for legends and myths?

They bring wisdom uncountable to our endless mist

Listen to what they have to say, for in them, you can find disguised bliss

 

They ask:

Why do you knock against our door?

and spread the words of capitalism horror?

Why do you shake our peace with terror?

that the world is safe no more?

 

I answer:

It is not war that we look for

but the conscience of the heart at the core

How can you say peace when pain and suffering are in store?

as you exploit the earth, people and environment for your continuing folklore

How can you feel safe when your so called ‘peace’ leaves an ugly gore?

The blackhole that our children will bear as burden, and what for?

To satisfy the ambitious search for profit and further more

To find happiness in numbers on endless shore

 

They ask:

Why do you claim the selfishness of accounting?

when it is only tool to help our living?

Why do you argue about its use for reporting?

Why do you want to keep it changing?

 

I answer:

Please stop and recheck your craving

Then tell me that accounting is not for your (and only your) self filling

Though you may say that your actions are for greater cause and better living

Just see how accounting has shaped us into our present beings

Classifying, calculating, summaryzing, and reporting

are not simple innocent actions without basic understanding

that behind those majestic numbers of earning

lies a tendentious degree of investors side-taking

 

They claim:

You speak too much of babbling meaningless words

None of which is true!

 

I answer:

Ssshhhhhhhh… then I will keep all my sincere words

for (as we all know) the answers are within you…

 

Malang, 20 October 2012

Ari Kamayanti

(Dibacakan di the Fourth International Consortium on Accounting, November 2012)

Posted in Ekspresi Seni Akuntansi, Publikasi Saya, Puisi Akuntansi | Tagged | Leave a comment