Tag Archives: Mahabbatullah

Esensi “Nobody”…

Beberapa waktu lalu (H-1) Ramadhan, saya mengubah nama di bbm profile saya dengan “nobody”.

Ternyata banyak juga yang protes 🙂

Ada yang bilang:

“Ibu bukan nobody buat saya- jangan ganti begitu- jadi sedih rasanya”

“Kamu lagi ada masalah sama siapa? kamu gpp?”

Komentar-komentar semacam itu menjadi cukup menarik karena menunjukkan betapa semua orang tidak suka dengan sebutan “nobody” padahal sebenarnya menjadi nobody seharusnya menjadi impian semua manusia yang ingin pulang kepada Allah… (menurut saya  lho ya…) 🙂

Ini ada cerita pendek:

Alkisah si Fulan mengetuk pintu Allah….

Allah lalu bertanya “Apa hak mu untuk masuk rumahKU?”

si Fulan menjawab “aku telah mematuhi semua perintahMU, ijinkan aku masuk ke rumahMU”.

Pintu tetap tertutup.

Kali kedua, Si Fulan kembali mengetuk pintu Allah…

Allah bertanya “Apa hak mu untuk masuk rumahKU?”

Si Fulan menjawab “aku telah menjauhi semua laranganMU, ijinkan aku masuk ke rumahMU”.

Pintu tetap tertutup.

Kali ketiga, si Fulan mengetuk pintu Allah…

Allah  bertanya “Apa hak mu untuk masuk rumahKU?”

Si Fulan menjawab “aku bukan siapa-siapa tanpa rahmatMU”

Pintu terbuka…

Kisah tadi sebenarnya menjelaskan bahwa predikat “nobody” – bukan siapa-siapa- adalah bentuk kesadaran tertinggi seorang manusia atas Rabb nya.  Kita terlalu sering membanggakan- siapa diri kita- gelar kita- anak kita- suami/istri kita- orang tua kita- harta kita agar kita menjadi “somebody”.  Bahkan jika bukan tentang materi, kita membanggakan non-materi, membanggakan spiritualitas kita- haji kita- khatam kita- ODOJ kita- pengajian kita- sholat kita- shadaqah kita- kebaikan kita. Semua agar kita  menjadi “somebody”.  Kita sering berpikir ulang untuk melakukan hal yang seharusnya benar, karena kita takut pandangan orang terhadap diri kita menjadi lebih rendah- karena kita ingin tetap dianggap “somebody” oleh orang-orang… Kita lebih suka terjerat kebenaran “umum” yang belum tentu benar, karena kita ingin jadi “somebody”.

“Aku harus ikutan korupsi- biar gak dibilang sok suci”-

“Aku harus ikutan menghujat- biar dibilang setia kelompok baiat”-

“Aku harus punya HP terbaru itu- biar gak dibilang ketinggalan jaman”-

Ah…betapa terkungkungnya kita oleh lingkungan untuk menjadi “somebody”.

Menjadi “nobody” bukan berarti tidak mau melakukan apa-apa.  Tetap menjadi keyakinan kita bahwa manusia diciptakan untuk mengabdi pada Tuhan melalui tugas yang diberikanNYA menjadi khalifah bumi.  Dalam ke”nobody”an, tugas ini harusnya diemban.  Justru dengan menjadi “nobody” tugas berat ini akan diemban dengan tingkat keikhlasan tertinggi.

“Aku belajar karena Allah- bukan agar nanti dapat gelar dan dikagumi orang”-

“Aku menulis karena Allah- bukan agar aku menjadi terkenal”-

“Aku berjuang karena Allah- bukan agar dipandang sebagai pahlawan”-

Dengan menjadi “nobody”, suatu saat nanti jika waktu pulang tiba, kita bisa masuk ke rumahNYA karena rahmatNYA.  Dengan menjadi “nobody” kita menggapai kebebasan penilaian duniawi dalam kebenaran ilahiyah.

Saya masih belajar menjadi “nobody”- semoga kelak dapat mencapai keikhlasan tertinggi itu- Bagaimana dengan anda? 🙂

Posted in Miscellaneous | Tagged | 2 Comments

Saat kita mereduksi Tuhan…

This gallery contains 1 photo.

Ada suatu trend baru dalam kehidupan saya akhir-akhir ini…khususnya pada bulan Ramadhan.

Saat ia datang, saya tidak terlampau bahagia… biasa saja…

Saat ia beranjak, saya juga tidak terlampau sedih… biasa saja…

Awalnya, saya merasa bahwa ini adalah suatu fase kemunduran dalam kehidupan spiritual saya.  Betapa tidak, dahulu begitu puasa Ramadhan dimulai, rasanya target-target sudah ditetapkan. Mengaji Al Quran harus khatam 1 bulan (karena sebelumnya tidak).  Sholat sunnah harus dilakukan, mulai sholat fajar, sholat dhuha, sholat tarawih, sholat tahajud, sholat witir, dan lain-lain.  Nafsu ibadah tiba-tiba melonjak 1000 persen.  Begitu pula saat Ramadhan menghilang.  Dulu, rasanya sedih luar biasa.  Hilang sudah kesempatan mendulang pahala berlimpah, dan menghapus dosa yang menimbun.  Timbul penyesalan yang dalam mengapa tidak lebih baik melakukan hal-hal yang seharusnya bisa dilakukan pada Ramadhan.  Timbul penyesalan bahwa saya sudah menyia-nyiakan Ramadhan.

Namun, tidak kali ini, beda sekarang.

Seperti yang tadi saya sampaikan, semua terasa biasa saja…

Lalu saya menyadari bahwa ini insyaAllah bukan kemunduran pada kehidupan spiritual saya.  Jika dulu saya begitu senang mendapatkan kesempatan mencari pahala dan menghilangkan dosa, itu karena saya jauh dari Tuhan (bukan hak saya pula untuk mengatakan kini dekat. Saya hanya berbaik sangka: bukankah Tuhan adalah sebagaimana prasangka hambaNYA?). Dulu saya menganut paham keterpisahan antara Tuhan dan dunia.  Ramadhan dulu menjadi jalan kepada Tuhan, karena dunia begitu jauh dari Tuhan.  Sehingga saat ia datang, saya diliputi kegembiraan luar biasa, dan saat ia pergi, saya sedih luar biasa.

Namun sekarang, saya sadar bahwa Tuhan tidak terpisah dari dunia saya.  Tidak satu haripun saya tidak berbicara tentang Tuhan. Sebagai dosen, tidak satu haripun saya tidak memperjuangkan kesatuan Tuhan dan ilmu (akuntansi).  Setiap hari adalah untuk Tuhan. Insya Allah. Ini bukan bermaksud takabur atau riya’… Sebagai manusia saya sadar bahwa banyak yang harus diperbaiki… Namun kesadaran semacam ini memberi kesan berbeda tentang Ramadhan.

Mungkin karena itu Ramadhan bagi saya adalah berkah, bukan kebahagiaan luar biasa… karena setiap hari sudah luar biasa untuk saya…

Euforia lampau itu  juga diakibatkan keyakinan saya bahwa Tuhan memberikan berlipat-lipat pahala pada Ramadhan (tidak seperti bulan-bulan lain).

Astaghfirullah, bukankah keyakinan saya terakhir tadi telah mereduksi kekuasaan Tuhan.  Apa hak kita untuk mengatakan Tuhan akan memberikan lebih banyak pahala di Ramadhan dibanding di bulan lain?  Bukan kah itu hak prerogatif Tuhan?  Suka-suka Ia mau memberi berapa banyak rahmat dan ampunan kapan dan di mana.  Apakah hanya doa di Ramadhan yang diijabahi? Apakah hanya di Multazam, Roudhoh, Mekah?  Bukankah hak Tuhan untuk mengijabahi doa hambaNya di Malang, atau lokalisasi sekalipun?  Ingatkah kita kisah pelacur yang masuk syurga karena memberi minum seekor anjing?  Rahman dan rahimNya yang tak berbatas tidak bisa dibatasi oleh Ramadhan.

Bukan berarti Ramadhan tidak perlu disambut.  Dalam kebiasaannya, Ramadhan dan ritualnya secara luar biasa mampu merekatkan hubungan antara keluarga, tetangga, dan rekan.  Ramadhan memberi kesempatan bagi kita yang belum seimbang- untuk menyeimbangkan kembali kehidupan kita untuk tidak lagi berat sebelah pada dunia, tetapi pada akhirat.  Dunia adalah jalan menuju bagi akhirat.

Entahlah… mungkin saya salah 🙂

Terlepas dari itu, gema takbir selalu mampu membuat kulit dan hati bergetar…

bacaan teks takbirhari raya lengkap

Semoga kita menjadi manusia-manusia yang tidak gemar mereduksi Tuhan…. Amiiiin…

Mohon maaf lahir batin, jika pembaca tidak berkenan membaca tulisan hasil refleksi diri ini… Selamat hari raya Idul Fitri 1435H.

Malam takbiran, 27 Juli 2014, 20:44 WIB

More Galleries | Leave a comment

Rinduku

Dan

malam semakin pekat

sepekat jelaga yang melekat… memadat..

 

Semerta cahaya merasuk.. dan hati bangun… menggeliat…

 

Dalam dingin hujan kutemukan hangatMu

Dalam kerik jangkrik tertutur heningMu

Dalam kelam kutemukan kemilauMu

Dalam sendiri kutemukan buaianMu

 

lalu cintaMu

mesraMu

merengkuhku

Saat dunia mengatupkanku

 

Aku sungguh sungguh rindu…

 

(dalam.syahdu.hujan.malam.05112010)

Posted in Ekspresi Seni Akuntansi, Puisi Akuntansi | Tagged | Leave a comment

My YOU

Here YOU are.. as I feel YOU

and the air is thick, enveloping, pressing, freeing…

 

hugging … there YOU are..accepting me as what I am…

cool and warm.. and everything that YOU are…

loving and ever so loving… my imperfection perfectly formed..

 

“Please take me with YOU”… I whispered amidst the soft caress of the breeze…

“I have taken the path YOU have laid out… with no remorse.. no regret…”

“I take everything from my LOVE, without leaving one single grain of fate”

“I have given my every breath for YOU and will give more… for YOU.. “

 

“I just want to be with YOU”…

 

But there YOU stay… tearing my soul apart.. for longing for YOU

And there YOU are.. so still.. yet so alive…

so far… yet so close…

 

as I listen to the universe chanting YOUR name…

 

(dalamkerinduanramadhan.malang5Agustus2011)

Posted in Ekspresi Seni Akuntansi, Puisi Akuntansi | Tagged | Leave a comment