Tag Archives: Menulis

“Memasak” akuntansi, yuk

Membuat masakan itu tidak sesederhana memotong, menumis, atau membumbui. Segala masakan dimulai dengan niat, terlebih cinta. Artikel ini pernah dipresentasikan di acara TEMAN3 Bali, lalu dimuat di Jurnal Riset Aplikasi Akuntansi dan Manajemen terbitan Politeknik Negeri Malang.

Sila unduh 🙂

Unduh Artikel

Posted in Publikasi Saya, Riset Akuntansi Non Positif | Tagged , , , | 1 Comment

Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif dalam Riset Akuntansi

Salam,

Minggu lalu saya diajak diskusi di acara Forum Reboan, dosen akuntansi Universitas Trunojoyo Madura (UTM).  Berikut materi yang disampaikan (sekadar berbagi pula) 🙂

2014_Qualitative Quantitative

Posted in Riset Akuntansi Non Positif | Tagged | Leave a comment

Artikel tentang Pembelajaran Manajemen Keuangan Syariah (Best Paper di Seminar Ekonomi Islam, 11-12 Oktober 2014 Kendari )

Artikel ini ditulis oleh saya dan Virginia Nur Rahmanti tentang bagaimana sebenarnya kita sering sekali sekadar mengerudungi suatu hal yang bersifat konvensional/pragmatis dan langsung mengklaim kesyariahannya, tanpa mengindahkan substansi di baliknya.

Hal serupa terjadi pada mata kuliah Manajemen Keuangan Syariah.  Ternyata setelah ditelaah, ditemukan bahwa substansi yang diajarkan pada Manajemen Keuangan Syariah sama dengan apa yang diajarkan di Manajemen Keuangan konvensional (non-syariah); termasuk tentang teknik penghitungan manajemen risiko).  Syariah hanya berkutat pada halal dan non riba (yang gugur pada kebolehan penggunaan metode anuitas),  namun tidak secara substansi membahas konsep keadilan (‘adalah).
 
Silakan baca.  Artikel ini akan direvisi ulang untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah.  Kami membuka masukan 🙂
 
2014_Kamayanti Virginia_Kendari
Posted in Pendidikan Akuntansi, Publikasi Saya, Riset Akuntansi Non Positif | Tagged | 1 Comment

Ganti TOEFL dengan Tes Bahasa Indonesia?

Ingat sumpah pemuda?  Sekadar mengingatkan:

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928.

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :

  1. Abdul Muthalib Sangadji
  2. Purnama Wulan
  3. Abdul Rachman
  4. Raden Soeharto
  5. Abu Hanifah
  6. Raden Soekamso
  7. Adnan Kapau Gani
  8. Ramelan
  9. Amir (Dienaren van Indie)
  10. Saerun (Keng Po)
  11. Anta Permana

(dari sumpahpemuda.org)

Nah, sayangnya poin ketiga tentang menjunjung Bahasa Indonesia ternyata secara praktis mungkin bisa dikatakan tidak menempati tempat utama apalagi jika dihadapkan dengan bahasa Inggris.  Buktinya, ujian masuk perguruan tinggi pasti meliput tes TOEFL (Test of English as Foreign Language) namun tidak mengujikan penguasaan bahasa ibu: bahasa Indonesia.

Mungkin anda bertanya: untuk apa diujikan? Toh kita semua selalu berbahasa Indonesia oleh karena itu menjadi logis bahwa kita menguasai bahasa Indonesia. Ironisnya, dalam pengalaman saya mengelola terbitan berkala ilmiah, penulis seringkali tidak menyadari kesalahan umum berbahasa Indonesia, seperti menuliskan “mempersilahkan” dan bukan “mempersilakan”, “Nopember” dan bukan “November”, “analisa” dan bukan “analisis”, “sekedar” dan bukan “sekadar”,  “mempengaruhi” dan bukan “memengaruhi”, dan masih banyak lagi.  Belum lagi dengan penataan Subyek-Predikat-Obyek yang seringkali kacau. Bukankah kemampuan kita berbahasa Indonesia mencerminkan kebanggaan kita terhadap Indonesia dan juga realisasi sumpah pemuda?

Saya juga percaya bahwa bahasa Inggris tetap harus dikuasai.  Walau demikian, perhatikan niatnya! Penguasaan bahasa Inggris bukan agar “sok keminggris” atau terlihat “keren”, namun untuk memastikan bahwa kita menguasai bahasa penjajah.  Foucault pernah menyatakan bahwa “Language is oppression“.  Bahasa adalah alat penjajahan.  Jadi, agar kita bisa melawan penjajah, kita harus menguasai bahasa penjajah.  Pelajari bahasanya agar kita dapat menyuarakan bentuk-bentuk ketidakadilan yang dilakukan oleh penjajah melalui bahasa mereka.

Jadi, apakah mungkin kita mengganti tes TOEFL dengan tes bahasa Indonesia? Paling tidak, bisa diadakan tes untuk kedua bahasa tersebut. Jangan-jangan tingkat kelulusan bahasa Indonesia menjadi lebih kecil daripada bahasa Inggris.  🙂

(Bisa jadi tulisan pendek ini sarat pula dengan kesalahan bahasa Indonesia)

Posted in Miscellaneous | Tagged | Leave a comment

Metode Penggalian Bukti Empiris, Penulisan, dan Interpretasi dalam Riset (Akuntansi) Postmodernisme

Inti dari suatu riset sosial adalah metode yang digunakan untuk menggali bukti atau bahan empiris sebagai dasar pembentukan pengetahuan. Selanjutnya, tentu diperlukan penulisan dan interpretasi bukti- bukti tersebut sehingga riset dapat memberikan hasil atau pengetahuan.Wawancara adalah suatu metode yang paling banyak digunakan dalam penelitian kualitatif termasuk riset posmoderen. Fokus wawancara adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang kaya dan dalam, oleh sebab itu biasanya wawancara memakan waktu yang panjang dan menghasilkan berbagai respons.

Penelitian yang jatuh dalam ranah paradigma postmodernisme juga memerlukan wawancara dalam penggalian bukti empiris. Namun demikian, diperlukan formulasi ulang metode wawancara khusus untuk paradigma postmodernisme karena wawancara yang ada pada sebagian besar penelitian kualitatif masih menekankan rasionalitas[1] yang tidak disukai kaum postmodernis.

Terdapat dua macam pewawancara yang ada dalam penelitian kualitatif, yaitu para neopositivist  dan para romantic. Tujuan para neopositivist adalah untuk membangun kebenaran tentang realitas ‘di luar sana’ dengan mematuhi protokol wawancara dan meminimisasi pengaruh pewawancara untuk mengurangi bias. Percakapan dalam wawancara dianggap sebagai ‘pipa’ untuk mentransfer pengetahuan. Karakter kuat neopositivist adalah obyektivitas dan netralitas.

Kaum romantic lebih menyukai pendekatan yang menggambarkan interaksi manusia yang sesungguhnya. Mereka lebih tertarik untuk membangun kepercayaan, keakraban dan komitmen antara pewawancara dengan yang diwawancara. Resiko yang dihadapi kaum romantic adalah kemungkinan bahwa yang diwawancara menangkap keinginan pewawancara dan mengarahkan wawancara sesuai harapan yang dimiliki pewawancara. Tetapi argumentasi yang diajukan para romantic adalah justru bahwa dengan kedekatan itulah hasil wawancara menjadi lebih realistis karena responden dapat mengekspresikan perasaan pribadinya.

Metode wawancara telah bergerak dari pemikiran neopositivist kepada kesadaran yang lebih tinggi tentang kompleksitas situasi wawancara. Ada pergerakan baru oleh para peneliti yang lebih berfokus kepada percakapan (conversation focused researchers) yang juga disebut dengan localist. Kelompok peneliti ini menekankan bahwa hasil wawancara sebaiknya dipandang pada konteks mikro. Peneliti postmodernisme memiliki satu pandangan bahwa wawancara lebih menampilkan Big Discourse[2]. Artinya hasil dari wawancara seperti ekspresi emosi responden, tidak dianggap sebagai motif dari responden, namun dipandang sebagai bentukan pengaruh sosial atau kekuasaan

Pandangan interpretif dan pandangan postmodernis melihat wawancara sebagai sesuatu yang berbeda. Kaum interpretif memaknai dari sisi peneliti, sedangkan kaum postmodernis melihat bagaimana pelaku memaknai diri mereka serta interaksi diantara mereka. Kaum postmodernis tidak mau melihat hasil wawancara sebagai sesuatu yang stabil dan tetap. Makna sesuatu bisa menjadi beragam dengan adanya ruang dan waktu yang temporal.

Terdapat tiga masalah yang mendasari wawancara sebagai situasi penghasil pengetahuan yaitu yang terletak pada pewawancara, yang diwawancara serta situasi sosial. Pewawancara memiliki pandangan dan keinginan yang dapat mengkonstruksi jalannya wawancara. Dari sisi yang diwawancara, bukannya tidak mungkin mereka memiliki motivasi tertentu dalam memberikan jawaban.

Situasi sosial juga memberikan masalah tersendiri, misalnya tentang tempat wawancara (wawancara di tempat parker tentu berbeda dengan di restoran), identitas pewawancara (pewawancara muda mungkin menemui tanggapan yang berbeda dengan yang lebih tua), dan lain- lain.

Penolakan terhadap rasionalitas dan berbagai kritik mengakibatkan wawancara sebagai metode tidak memiliki landasan yang dianggap kuat sebagai pembentuk pengetahuan. Namun hal ini tidak berarti bahwa metode ini harus dihindari sama sekali. Untuk itu terdapat dua ide yang diajukan untuk mengkonseptualisasikan wawancara dalam paradigma postmodernisme. Pertama adalah dengan memandang wawancara sebagai suatu kondisi sosial yang kompleks, di mana hasil wawancara dipandang sebagai suatu pencapaian pada konteks lokal dan interaktif. Kedua, wawancara dianggap sebagai permainan kekuasaan, dan hasilnya menggambarkan mode-mode sosial yang dominan untuk membentuk pengetahuan.

Proses formulasi ulang wawancara untuk paradigma postmodernisme dapat dilakukan dengan memodifikasi praktik wawancara yang memungkinkan pewawancara menilai signifikansi dan pengaruh tentang isu-isu, berbagai hubungan dan pengaruh interaksi yang menjadi karakter dari wawancara. Selain itu, interpretasi harus mempertimbangkan berbagai cara memahami hasil dari wawncara, termasuk dari berbagai pandangan logis melihat hasil wawancara tersebut sebagai ekspresi pengetahuan responden tentang dunia di luar sana dan cara mereka menghubungkan dirinya ke dunia itu. Terakhir, penting untuk memikirkan ulang rumusan masalah sehingga menjadi realistis, dengan mempertimbangkan situasi wawancara yang kompleks.

Seusai proses wawancara yang harus dilakukan adalah menginterpretasi dan menulis hasil interpretasi tersebut. Aktivitas interpretasi memunculkan masalah dengan voice. Voice adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kesulitan yang dihadapi penulis dalam merepresentasikan dirinya dan pada saat yang bersamaan merepresentasikan mereka yang diwawancara. Biasanya yang lebih umum digunakan adalah fokus pada representasi lapangan, bukan pada penulis.

Dalam menginterpretasikan voice, postmodernis menghindari kecenderungan mainstream yang mencoba mencari pola, menemukan sistem atau menggunakan mekanisme logis yang dapat menjelaskan inkonsistensi dan kontradiksi. Dalam ilmu sosial ada kecenderungan keterpihakan peneliti ilmu sosial kepada minoritas, kaum yang lemah, yang terpinggirkan atau kaum yang tidak memiliki kekuasaan. Postmodernis tidak menyukai satu voice saja, mereka menyukai multi voice, beberapa alternative. Ini akan menimbulkan permasalahan jika peneliti harus menyampaikan beberapa pernyataan negative suatu kelompok atas kelompok lain.

Menarik untuk dicermati pernyataan Alveson yang menegaskan kembali tidak mungkinnya dilakukan interpretasi oleh kaum skeptis postmodernis karena mereka suka mendekonstruksi dan antipati terhadap proyek- proyek pemaknaan (Alvesson, 2002: 131).  Postmodernisme menekankan pada metode yang plural dalam pemaknaan. Oleh karena itu tiga posisi yang harus diambil seorang peneliti dalam paradigam postmodernisme adalah bahwa ia harus memiliki keraguan yang radikal dan berkelanjutan tentang kata- kata yang ia gunakan, ia menyadari bahwa argumentasinya tidak akan dapat menghapuskan keraguan tersebut dan teakhir, ia tidak boleh berfikir bahwa kata-kata yang digunakannya lebih dekat pada realitas dibandingkan dengan kata- kata yang digunakan orang lain.

Penulisan karya postmodernisme berkarakter sangat kaya dan berat pada teks sebagai elemen dalam riset sosial. Posmodernis lebih menyukai cara penulisan daripada bagaimana suatu metode dilakukan[3]. Ada tiga cara penulisan yang dilakukan riset kualitatif yaitu: realism, impressionic writing dan confessional ethnography. Pada realism penulis benar-benar ‘menghilang’ dari tulisan. Dua cara yang lain lebih disukai dalam postmodernisme. Impressionic writing adalah cara yang dilakukan penulis untuk menunjukkan bukan untuk menceritakan, sehingga tulisan harus sangat detail untuk menarik pembacanya seakan terlibat dan merasakan pengalaman penulis. Dalam confessional ethnography pengalaman penulislah yang ditawarkan sebagai media pembelajaran bagi pembaca.

Dalam metode wawancara, interpretasi, dan penulisan yang digunakan peneliti postmodernis, akan selalu ada trade off antara berbagai kepentingan author- reader, fieldwork-textwork, serta subjectivity-objectivity. Namun sepertinya pluralitas postmodernisme membuat kesulitan tersendiri tentang apa yang harus diambil. Pada akhirnya, merupakan suatu hak penulis dengan caranya sendiri untuk melakukan apa yang diinginkannya—anything goes.


[1] Untuk mengurangi bias, wawancara dapat dilakukan oleh 2 atau 3 orang yang mana salah satunya memberikan pertanyaan dan yang lain melakukan observasi (Alvesson, 113)

[2] Discourse is used to cover all spoken interaction, formal and informal, written texts of all kinds (Alvesson, 2002: 68)

[3] Postmodernis lebih “…preoccupied with the way ethnography is written rather than with the way it is carried out” (Alvesson, 2002: 134)

Posted in Perkuliahan S3, Riset Akuntansi Posmoderen | Tagged | Leave a comment

Penggunaan Teori Kritis untuk Riset Akuntansi Interpretif? (Bisakah?)

Terkadang seorang peneliti mengklaim bahwa ia menggunakan paradigma kritis HANYA karena alat analisis yang digunakan adalah teori kritis.  Klaim ini tidak sepenuhnya benar.  Yang perlu dipahami dalam paradigma kritis adalah tujuan penelitian yang ingin melakukan emansipasi dan perubahan.  Jadi, jika teori kritis digunakan untuk memetakan fenomena yang sedang terjadi, maka penelitian tersebut tidak dapat dikatakan sebagai penelitian dalam paradigma kritis, namun bisa jadi telah masuk dalam paradigma interpretif.

Misalnya saja, jika ada penelitian tentang fenomena privatisasi BUMN yang kemudian dianalisis melalui “kacamata” Marhaenisme, maka penelitian tersebut tidak dapat dikatakan berada dalam paradigma kritis jika tujuannya adalah telaah apa yang telah terjadi pada BUMN tersebut.  Klaim paradigma kritis ala Marhaen dapat dicapai jika, misalnya,  penelitian tersebut mengkritisi dan menghasilkan konstruksi cara/strategi untuk menghindari privatisasi untuk melindungi kepentingan rakyat kecil.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah karakter teori kritis yang digunakan.  Setiap teori kritis pasti memberikan sebuah cara untuk melakukan perubahan dan pembebasan.  Teori Kritis Marxis, misalnya, menyarankan pengaburan batas kelas proletar dan borjuis untuk menghilangkan jeratan kapitalisme.  Disebutkan:

“Marx is here explicitly concerned with the phenomenon that is commonly described today as the separation of ownership and control. He discusses what he calls the “transformation of the really functioning capitalist into a mere director, an administrator of alien capital, and of the owners of capital into mere owners, mere money capitalists”.

It is a “point on the way to the transformation of all functions in the process of reproduction hitherto connected with capital ownership into mere functions of the associated producers, into social functions” (p. 478). The joint-stock company, in other words, is halfway to the communist—and that means class-less society.  (Dahrendorf 1959:22).  Classes do not constitute themselves as such until they participate in political conflicts as organized groups.

Teori kritis lainnya seperti Habermas menggunakan praxis untuk melakukan perubahan yang disepakati bersama melalui rasionalisasi aksi-komunikasi.  Gramsci menyarankan strategi kounter-hegemoni untuk melawan hegemoni.

Karakter-karakter teori ini seharusnya muncul tidak hanya dalam metodologi namun juga dalam hasil penelitian.  Sebenarnya cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan “ruh” karakter teori tersebut yang secara khas inheren.  Misalnya, peneliti dapat menggunakan bahasa-bahasa seperti “bewust” untuk menjelaskan hasil penelitian berbasis Marhaen, atau “intellectual organ” untuk menjelaskan hasil pada penelitian berbasis Gramsci, dst.

Paradigma kritis juga harus sarat dengan refleksivitas kritis.  Ketidak setujuan atas suatu fenomena perlu dipertegas (walau dengan bahasa yang “lebay” seperti “meggugat” “mendobrak”, dan “membenturkan”).  Tentu saja perlu pula justifikasi ilmiah bahwa pendapat serupa pernah dilontarkan.  Hindari tata bahasa yang cenderung normatif, yaitu yang membenarkan teori yang ada tanpa refleksivitas.

Dengan demikian tidak hanya hasil akhir penelitian yang merupakan pembebasan, dan ruh teori kritis akan mewujud dalam tulisan.  Selamat mencoba! 🙂

Posted in Riset Akuntansi Non Positif | Tagged | 14 Comments

Buka Jasa analisis DATA KUALITATIF menggunakan FENOMENOLOGI, HERMENEUTIKA, dan ETNOGRAFI dengan HARGA MURAH (Bag 2)

Sejak posting-an pertama saya mengenai Buka Jasa analisis DATA KUALITATIF menggunakan FENOMENOLOGI, HERMENEUTIKA, dan ETNOGRAFI dengan HARGA MURAH (Bag 1) ternyata banyak pula yang datang pada saya untuk menanyakan jasa tersebut…

Hehehe… dengan demikian sebenarnya ada yang belum dipahami tentang penelitian non-positif (kualitatif- walau sebenarnya penggunaan penelitian kualitatif bisa jadi misleading, karena ada penelitian positif yang juga kualitatif).

Penawaran pada posting-an saya tersebut tentu saja tidak bisa dijalankan karena terlepas dari fakta bahwa fenomenologi hermeneutika, dll adalah “alat” riset yang di dalamnya terdapat tahapan-tahapan pengolahan data, ada satu “alat” utama yang hanya ada pada peneliti sendiri- yaitu refleksivitas.

Jika SPSS/AMOS/PLS/SEM menawarkan otomatisasi pengolahan data dari semua yang telah di-input-kan, dan memberikan hasil yang kemudian diinterpretasikan oleh peneliti,  maka fenomenologi, hermeneutika, dlll tidak menawarkan “otomatisasi” ini.  Proses abstraksi “values” harus tetap dilakukan peneliti.  Hal ini tentu membutuhkan refleksi atas pengalaman peneliti saat berada pada situs penelitian- yang tidak bisa dikerjakan oleh orang lain.

Pengalaman ini termasuk rapport- kedekatan antara peneliti dengan apa atau siapa yang sedang ditelitinya.  Bahkan pada ekstrim tertentu, penelitian perlu menyajikan rasa yang timbul dalam diri peneliti.  Apakah mungkin hal seperti ini dilakukan oleh orang lain, yang tidak terjun langsung dalam penelitian?

Jadi sebelum ada pertanyaan lanjutan lagi yang ditujukan pada saya: “berapa harga olah data pakai fenomenologi, hermeneutika, dll?”… saya tegaskan kembali: “Peneliti adalah alat utama pengolahan data kualitatif, bukan orang lain atau bahkan pemberi jasa olah data” :).

Nggak jualan lho yaa…

 

 

Posted in Riset Akuntansi Non Positif | Tagged | Leave a comment

Buka Jasa analisis DATA KUALITATIF menggunakan FENOMENOLOGI, HERMENEUTIKA, dan ETNOGRAFI dengan HARGA MURAH (Bag 1)

This gallery contains 1 photo.

Pada saat menuju ruang kuliah beberapa hari lalu, saya tertegun di depan papan pengumuman.  Sebuah usaha jasa statistik menawarkan jasa proses dan analisa statistik dengan harga yang paling murah.  Jadi kalau anda punya data penelitian, tinggal panggil jasa ini dan mereka akan memproses hingga menganalisa data anda menjadi hasil penelitian.

Saya jadi mikir…. kalau misalnya saya bikin iklan seperti judul tulisan ini bagaimana ya?  Apakah mungkin ada “pasar” mengingat penelitian kualitatif sedang naik daun?

Hehehe…

Penelitian kualitatif yang bersifat induktif tentu juga memiliki data primer yang luar biasa kaya.  Beberapa bentuk data antara lain hasil wawancara, observasi, fotografi (mungkin), dan dokumentasi.  Tidak jarang peneliti mengalami kebingungan mau diapakan data sekian banyak?

Argumen jasa statistik di atas tentu dapat “dibenarkan” karena memang penelitian positif yang deduktif kuantitatif bersifat obyektif.  SPSS, AMOS, LISREL semua hanya alat sehingga siapapun yang mengoperasikan, akan mendapatkan hasil olahan data yang sama.

Apakah argumen serupa dapat digunakan untuk penelitian kualitatif?  Apakah Fenomenologi, Hermeneutika, Etnografi dll hanya alat?

Jika ya… saya akan buka jasa serupa. 🙂

More Galleries | Leave a comment

Penggunaan Teori Kritis Tjoet Njak Dhien dalam Riset Akuntansi

Artikel ini menelaah tumbuhnya Feminisme sebagai reaksi atas dominasi laki-laki atas perempuan. Dengan membandingkan teori kritis ‘laki-laki’ dengan feminisme ditemukan kesamaan karakter maskulinitas.  Karakter Feminisme Barat dalam keragamannya (Liberal, Radikal, Marxis/Sosialis, dan Posmoderen) sarat dengan tujuan penggulingan opresi laki-laki terhadap perempuan tanpa mengindahkan religiusitas.  Artikel ini menjelaskan keunggulan ‘Non-Feminis’ Indonesia dari Aceh, Tjoet Njak Dhien, yang mampu menawarkan pembebasan dan perubahan dengan fitrah perempuan Islam. Gaya hidup serta perjuangannya menjadi intisari Teori Kritis Tjoet Njak Dhien yang diturunkan ke dalam metodologi untuk riset akuntansi kritis.

Diterbitkan di JAMAL Vol 4 No 3, Desember 2013 (www.jamal.ub.ac.id)

13_4_3_Tjoet Njak Dhien

 

More Galleries | Leave a comment

Bibliography software sekaligus media sosial khusus periset: Mendeley

Endnotes adalah bibliografi software berbayar.  Namun ada juga bibliography software ‘gratisan’ seperti Mendeley dan Zotero.  Saya lebih familier dengan Mendeley dan dengan menggunakan Mendeley saya sangat terbantu saat melakukan sitasi dan membuat daftar referensi.  Tidak hanya itu, Mendeley juga sangat membantu mencari lokasi dari artikel-artikel (yang karena manajemen ruang saya di komputer jelek) dengan mudah bahkan membukanya di tempat.

Mendeley juga seperti Facebook.  Anda bisa add teman, namun teman di Mendeley sangat terbatas- karena biasanya hanya periset/penulis yang punya akun di Mendeley. Tak apalah, terbatas tapi berkualitas… hehehe….

Kalau mau install di laptop anda, tinggal masuk ke laman www.mendeley.com dan unduh aplikasi.  Setelah masuk ke mendeley dashboard jangan lupa install plugin untuk MSWord (klik “tool), agar bisa digunakan saat anda menulis di MSWord.  Selamat mencoba.

Nah, untuk meningkatkan sitasi, Mendeley juga membantu, karena di “my publication” anda bisa share artikel sehingga semakin banyak orang yang akan membaca tulisan anda.

Silakan buka link di bawah ini, dan mengunduh beberapa publikasi saya di Mendeley… gratis kok 🙂

http://www.mendeley.com/profiles/ari-kamayanti/

Posted in Miscellaneous | Tagged | Leave a comment