Category Archives: Perkuliahan S3

Protected: English for Accounting Research Purpose

There is no excerpt because this is a protected post.

Posted in Perkuliahan S3 | Enter your password to view comments.

Protected: Sesi Kedua Riset Akuntansi Kritis

There is no excerpt because this is a protected post.

Posted in Perkuliahan S3, Riset Akuntansi Kritis | Tagged | Enter your password to view comments.

Protected: Orientalisme dan Oksidentalisme: Penggunaannya dalam Riset Akuntansi Posmoderen

There is no excerpt because this is a protected post.

Posted in Riset Akuntansi Posmoderen | Enter your password to view comments.

Protected: Silabus Riset Akuntansi Posmoderen 2014/2015

This content is password protected. To view it please enter your password below:

More Galleries | Enter your password to view comments.

Seluruh materi Etika Bisnis dan Profesi

Salam,

Berikut ini merupakan materi dan silabus Etika Bisnis yang didiskusikan di kelas.  Sila diunduh dan dibaca untuk kita bahas bersama.

12. Unti&Ari-international journal

A Critique to Accounting Ethics

Accounting and Financial Ethics, From Margin to Mainstream

Beyond Arthur Anderson Ethical Behavior and Securities Trading

Ethics for Management Consultants Ethics in Government

Etika di KAP-Unti Ludigdo

Independency in Corporate Governance

The Audit Committee Ro Leadership and ethics

Pidato-Pengukuhan-Guru-Besar-Unti-Ludigdo

Professionalism, ethical codes and the internal auditor

SAP E&B MSA-2014nap

The Ethics of Corporate Governance

The Ethics of Tax Planning

The Legitimacy of Accountants participation in Social and Et

AA1000APS 2008

Posted in Etika Bisnis (Matrikulasi), Perkuliahan S3 | Leave a comment

Protected: Language Games Lyotard dalam Riset Akuntansi

There is no excerpt because this is a protected post.

Posted in Perkuliahan S3, Riset Akuntansi Posmoderen | Enter your password to view comments.

Kode Etik: Etiskah?

Seringkali kita melakukan pelabelan bahwa sesuatu etis atau tidak, karena nyata bahwa terlihat bahwa telah terjadi pelanggaran atas kode etik.  Ini sah-sah saja, namun perlu telaah lebih lanjut karena judgment ini masih berada pada level superfisial (permukaan).

Pertemuan kali ini tidak hanya membahas kode etik akuntan Indonesia dan juga IFAC, namun secara lebih dalam memahami profesi akuntan dan bagaimana telah terjadi pergeseran nilai.  Perlu diingat, bahwa oleh karena kode etik adalah turunan dari nilai, maka pergeseran nilai memiliki konsekuesi logis pergeseran kode etik.  Artinya memang, bisa jadi kode etik yang selama ini taken for granted bisa jadi tidak merujuk pada NILAI yang kita yakini benar.  Dalam hal ini, kode etik bisa saja menjadi tidak etis. 🙂

Baca pula artikel tambahan tentang pergeseran paradigma etika- dari ethics of right menjadi ethics of care…

Etika Profesi Etiskah

10-3 The Ethics of Care and New Paradigms for Accounting Pra

Posted in Etika Bisnis (Matrikulasi), Perkuliahan S3 | Leave a comment

Protected: Pancasila as the basis of accountant ethics

There is no excerpt because this is a protected post.

Posted in Etika Bisnis (Matrikulasi), Perkuliahan S3 | Enter your password to view comments.

Perlunya memahami “nature of man” untuk memahami bentuk bisnis yang etis

Salam…

Walaupun mata kuliah ini merupakan mata kuliah matrikulasi (S2), namun saya merasa bahwa pada level S3, perlu ada usaha lebih untuk menarik praktik dan teori etika pada tataran yang lebih tinggi… yaitu pada level teori keberadaan yang lebih dikenal dengan “ontologi”.

Mohon Bapak/Ibu baca tambahan artikel yang saya lampirkan di sini untuk kita bahas bersama dengan buku rujukan utama dan refleksi Bapak dan Ibu atas film The Last Samurai.

Friedman_1970

Nature of Man_jensen_meckling

SLIDES_Matrikulasi Understanding Global Business Ethics

Posted in Etika Bisnis (Matrikulasi), Perkuliahan S3 | Leave a comment

Metode Penggalian Bukti Empiris, Penulisan, dan Interpretasi dalam Riset (Akuntansi) Postmodernisme

Inti dari suatu riset sosial adalah metode yang digunakan untuk menggali bukti atau bahan empiris sebagai dasar pembentukan pengetahuan. Selanjutnya, tentu diperlukan penulisan dan interpretasi bukti- bukti tersebut sehingga riset dapat memberikan hasil atau pengetahuan.Wawancara adalah suatu metode yang paling banyak digunakan dalam penelitian kualitatif termasuk riset posmoderen. Fokus wawancara adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang kaya dan dalam, oleh sebab itu biasanya wawancara memakan waktu yang panjang dan menghasilkan berbagai respons.

Penelitian yang jatuh dalam ranah paradigma postmodernisme juga memerlukan wawancara dalam penggalian bukti empiris. Namun demikian, diperlukan formulasi ulang metode wawancara khusus untuk paradigma postmodernisme karena wawancara yang ada pada sebagian besar penelitian kualitatif masih menekankan rasionalitas[1] yang tidak disukai kaum postmodernis.

Terdapat dua macam pewawancara yang ada dalam penelitian kualitatif, yaitu para neopositivist  dan para romantic. Tujuan para neopositivist adalah untuk membangun kebenaran tentang realitas ‘di luar sana’ dengan mematuhi protokol wawancara dan meminimisasi pengaruh pewawancara untuk mengurangi bias. Percakapan dalam wawancara dianggap sebagai ‘pipa’ untuk mentransfer pengetahuan. Karakter kuat neopositivist adalah obyektivitas dan netralitas.

Kaum romantic lebih menyukai pendekatan yang menggambarkan interaksi manusia yang sesungguhnya. Mereka lebih tertarik untuk membangun kepercayaan, keakraban dan komitmen antara pewawancara dengan yang diwawancara. Resiko yang dihadapi kaum romantic adalah kemungkinan bahwa yang diwawancara menangkap keinginan pewawancara dan mengarahkan wawancara sesuai harapan yang dimiliki pewawancara. Tetapi argumentasi yang diajukan para romantic adalah justru bahwa dengan kedekatan itulah hasil wawancara menjadi lebih realistis karena responden dapat mengekspresikan perasaan pribadinya.

Metode wawancara telah bergerak dari pemikiran neopositivist kepada kesadaran yang lebih tinggi tentang kompleksitas situasi wawancara. Ada pergerakan baru oleh para peneliti yang lebih berfokus kepada percakapan (conversation focused researchers) yang juga disebut dengan localist. Kelompok peneliti ini menekankan bahwa hasil wawancara sebaiknya dipandang pada konteks mikro. Peneliti postmodernisme memiliki satu pandangan bahwa wawancara lebih menampilkan Big Discourse[2]. Artinya hasil dari wawancara seperti ekspresi emosi responden, tidak dianggap sebagai motif dari responden, namun dipandang sebagai bentukan pengaruh sosial atau kekuasaan

Pandangan interpretif dan pandangan postmodernis melihat wawancara sebagai sesuatu yang berbeda. Kaum interpretif memaknai dari sisi peneliti, sedangkan kaum postmodernis melihat bagaimana pelaku memaknai diri mereka serta interaksi diantara mereka. Kaum postmodernis tidak mau melihat hasil wawancara sebagai sesuatu yang stabil dan tetap. Makna sesuatu bisa menjadi beragam dengan adanya ruang dan waktu yang temporal.

Terdapat tiga masalah yang mendasari wawancara sebagai situasi penghasil pengetahuan yaitu yang terletak pada pewawancara, yang diwawancara serta situasi sosial. Pewawancara memiliki pandangan dan keinginan yang dapat mengkonstruksi jalannya wawancara. Dari sisi yang diwawancara, bukannya tidak mungkin mereka memiliki motivasi tertentu dalam memberikan jawaban.

Situasi sosial juga memberikan masalah tersendiri, misalnya tentang tempat wawancara (wawancara di tempat parker tentu berbeda dengan di restoran), identitas pewawancara (pewawancara muda mungkin menemui tanggapan yang berbeda dengan yang lebih tua), dan lain- lain.

Penolakan terhadap rasionalitas dan berbagai kritik mengakibatkan wawancara sebagai metode tidak memiliki landasan yang dianggap kuat sebagai pembentuk pengetahuan. Namun hal ini tidak berarti bahwa metode ini harus dihindari sama sekali. Untuk itu terdapat dua ide yang diajukan untuk mengkonseptualisasikan wawancara dalam paradigma postmodernisme. Pertama adalah dengan memandang wawancara sebagai suatu kondisi sosial yang kompleks, di mana hasil wawancara dipandang sebagai suatu pencapaian pada konteks lokal dan interaktif. Kedua, wawancara dianggap sebagai permainan kekuasaan, dan hasilnya menggambarkan mode-mode sosial yang dominan untuk membentuk pengetahuan.

Proses formulasi ulang wawancara untuk paradigma postmodernisme dapat dilakukan dengan memodifikasi praktik wawancara yang memungkinkan pewawancara menilai signifikansi dan pengaruh tentang isu-isu, berbagai hubungan dan pengaruh interaksi yang menjadi karakter dari wawancara. Selain itu, interpretasi harus mempertimbangkan berbagai cara memahami hasil dari wawncara, termasuk dari berbagai pandangan logis melihat hasil wawancara tersebut sebagai ekspresi pengetahuan responden tentang dunia di luar sana dan cara mereka menghubungkan dirinya ke dunia itu. Terakhir, penting untuk memikirkan ulang rumusan masalah sehingga menjadi realistis, dengan mempertimbangkan situasi wawancara yang kompleks.

Seusai proses wawancara yang harus dilakukan adalah menginterpretasi dan menulis hasil interpretasi tersebut. Aktivitas interpretasi memunculkan masalah dengan voice. Voice adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kesulitan yang dihadapi penulis dalam merepresentasikan dirinya dan pada saat yang bersamaan merepresentasikan mereka yang diwawancara. Biasanya yang lebih umum digunakan adalah fokus pada representasi lapangan, bukan pada penulis.

Dalam menginterpretasikan voice, postmodernis menghindari kecenderungan mainstream yang mencoba mencari pola, menemukan sistem atau menggunakan mekanisme logis yang dapat menjelaskan inkonsistensi dan kontradiksi. Dalam ilmu sosial ada kecenderungan keterpihakan peneliti ilmu sosial kepada minoritas, kaum yang lemah, yang terpinggirkan atau kaum yang tidak memiliki kekuasaan. Postmodernis tidak menyukai satu voice saja, mereka menyukai multi voice, beberapa alternative. Ini akan menimbulkan permasalahan jika peneliti harus menyampaikan beberapa pernyataan negative suatu kelompok atas kelompok lain.

Menarik untuk dicermati pernyataan Alveson yang menegaskan kembali tidak mungkinnya dilakukan interpretasi oleh kaum skeptis postmodernis karena mereka suka mendekonstruksi dan antipati terhadap proyek- proyek pemaknaan (Alvesson, 2002: 131).  Postmodernisme menekankan pada metode yang plural dalam pemaknaan. Oleh karena itu tiga posisi yang harus diambil seorang peneliti dalam paradigam postmodernisme adalah bahwa ia harus memiliki keraguan yang radikal dan berkelanjutan tentang kata- kata yang ia gunakan, ia menyadari bahwa argumentasinya tidak akan dapat menghapuskan keraguan tersebut dan teakhir, ia tidak boleh berfikir bahwa kata-kata yang digunakannya lebih dekat pada realitas dibandingkan dengan kata- kata yang digunakan orang lain.

Penulisan karya postmodernisme berkarakter sangat kaya dan berat pada teks sebagai elemen dalam riset sosial. Posmodernis lebih menyukai cara penulisan daripada bagaimana suatu metode dilakukan[3]. Ada tiga cara penulisan yang dilakukan riset kualitatif yaitu: realism, impressionic writing dan confessional ethnography. Pada realism penulis benar-benar ‘menghilang’ dari tulisan. Dua cara yang lain lebih disukai dalam postmodernisme. Impressionic writing adalah cara yang dilakukan penulis untuk menunjukkan bukan untuk menceritakan, sehingga tulisan harus sangat detail untuk menarik pembacanya seakan terlibat dan merasakan pengalaman penulis. Dalam confessional ethnography pengalaman penulislah yang ditawarkan sebagai media pembelajaran bagi pembaca.

Dalam metode wawancara, interpretasi, dan penulisan yang digunakan peneliti postmodernis, akan selalu ada trade off antara berbagai kepentingan author- reader, fieldwork-textwork, serta subjectivity-objectivity. Namun sepertinya pluralitas postmodernisme membuat kesulitan tersendiri tentang apa yang harus diambil. Pada akhirnya, merupakan suatu hak penulis dengan caranya sendiri untuk melakukan apa yang diinginkannya—anything goes.


[1] Untuk mengurangi bias, wawancara dapat dilakukan oleh 2 atau 3 orang yang mana salah satunya memberikan pertanyaan dan yang lain melakukan observasi (Alvesson, 113)

[2] Discourse is used to cover all spoken interaction, formal and informal, written texts of all kinds (Alvesson, 2002: 68)

[3] Postmodernis lebih “…preoccupied with the way ethnography is written rather than with the way it is carried out” (Alvesson, 2002: 134)

Posted in Perkuliahan S3, Riset Akuntansi Posmoderen | Tagged | Leave a comment